Memang Kebangetan Film Jomblo Fi Sabilillah

Photo of author
Written By Mega Humas FLP
FLP Bali Nobal Film Jomblo Fi Sabilillah

          Sungguh kebangetan film Jomblo Fi Sabilillah. Bagaimana nggak kebangetan, perasaan saya sebagai penonton dipermainkan luar biasa. Awalnya diajak hahahihi tertawa, lalu dibuat baper oleh kisah cinta, kemudian larut dalam romantisme dua sejoli. Eh, setelah itu, hati ini dibanting, diiris sampai menangis-nangis. Konfliknya sebetulnya tipis, tetapi menguras air mata. Bisa dikatakan film yang diadaptasi dari novel Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia ini bagusnya kebangetan.

          Awalnya, saya merasa kurang pas untuk nonton film bertopik jomblo ini. Dalam hati berkata, “Ah, saya sudah nikah. Bukan remaja lagi. Gak cocok lihat film ini.” Namun setelah nonton, ternyata karya yang disutradarai Jastis Arimba ini cocok ditonton oleh semua kalangan (baik yang sudah menikah maupun yang masih jomblo). Sebab, film ini bukan hanya mengangkat masalah para jomblo, melainkan juga konflik berat yang dialami orangtua salah seorang jofisa (jomblo fi sabilillah) dalam berumah tangga. Dari sini saya paham bahwa menonton film bukan perihal cocok atau tidaknya dengan kita, melainkan tentang makna yang bisa digali untuk memperkaya kebijaksanaan diri.

          Film berdurasi sekitar dua jam ini menghadirkan dialog yang bermutu, lucu, syar’i, dan berisi. Kalimat-kalimat yang terlontar bukan abal-abal. Hampir semua bermakna dan tidak sia-sia. Hal itu menunjukkan bahwa setiap kata yang digunakan sangat terpilih. Sebagai penonton, kami bukan hanya mendapat hiburan dan tawa, melainkan juga ilmu, dan solusi syar’i. Tentu ini tak lepas dari kepiawaian, kecerdasan, dan religiusitas dari para penulisnya.

          Humor yang dihadirkan juga segar dan lucu. Salah satunya ketika seorang tokoh bertanya pada anaknya yang masih jomblo. Kurang lebih begini dialognya, “Ali, kapan kamu nikah?” tanya ayah pada anaknya yang sedang makan. Lalu si anak menjawab, “Nanti abis makan saya nikah,” jawabnya santai. Sontak ini mengundang gelak tawa kami semua yang menonton. Intinya banyak banyolan di luar dugaan yang mengundang tawa.

          Uniknya film ini sangat lekat dengan budaya literasi. Saya sempat kaget karena banyak bagian yang menyematkan adegan-adegan membaca buku. Beberapa tokoh berakting natural sedang membaca buku. Jelas, ini jarang saya temukan di film-film lain. Jangankan di film, di dunia nyata saja jarang terlihat aktivitas orang membaca buku. Dari sini saya meyakini bahwa karya ini diproduksi bukan sekadar hiburan semata, tapi juga misi membudayakan literasi membaca. Saya seperti diingatkan untuk gemar membaca dan menuntut ilmu dari buku-buku. Keren, kan.

          Karakter masing-masing tokoh dimainkan dengan penjiwaan yang pas sesuai peran masing-masing. Terlihat semua profesional dan proporsional. Jikapun ada yang sedikit lebay, bagi saya itu wajar karena film yang dibintangi Ricky Harun ini bergenre religi komedi romantis. Komedinya inilah yang membuat adegan lebay menjadi kelakar. Kelakar yang membuat penonton terpingkal-pingkal.

          Banyak karya layar lebar wara-wiri namun tidak syar’i. Alhamdulillah Jomblo Fi Sabilillah ini hadir dalam kemasan nuansa islami. Para jomblo digambarkan sebagai pemuda dan pemudi yang berusaha menjaga kehormatan diri. Meski jomblo tetap berupaya memantaskan diri agar tetap dalam rida Ilahi. Pelaku pacaran diceritakan cepat sadar. Film ini berupaya mengingatkan jika pacaran membawa banyak kemudaratan.

          Pada bagian akhir cerita, saya merasakan ada dua kali belokan mendadak dalam ending ceritanya. Belokan mendadak yang dimaksud ialah akhir cerita di luar dugaan. Kalau dalam bahasa gaul sekarang disebut plot twist. Persis seperti kita sedang berkendara di jalan lurus dan tiba-tiba ada belokan di hadapan kita. Jelas mengejutkan dan membuat gagap, bukan. Secara umum hadirnya plot twist pada akhir cerita hanya ada sekali. Nah, di film ini hadirnya dua kali. Plot twist pertama saya kira film sudah berakhir. Rupanya masih ada kejutan mendadak selanjutnya yang membuat saya betul-betul tak menyangka.

          Film Jomblo Fi Sabilillah ini sangat pantas untuk disaksikan semua kalangan. Meski kemasannya syar’i, film ini cocok ditonton oleh saudara kita yang bukan muslim. Karena dalam karya ini banyak ilmu dan pengalaman yang bisa diamalkan untuk semua orang. Kalo nggak percaya tonton saja sendiri. Cukup sekian ulasannya, ya. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab.

oleh Dwi Rahayu – FLP Bali

Leave a Comment