Resensi Buku ; LALITA – 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia

Judul Buku ; LALITA – 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia

Penulis : Abigail Limuria & Grace Kadiman

Editor : Anita Putri

Penerbit : Lalita Project

Cetakan : I, 2019

Tebal : 107 hlm, art paper

***

Ada yang tak bisa kau tukar dengan hartamu, itulah waktu.

Masa, dia hanya bisa bergulir tanpa bisa kembali dengan rupa dan tawa yang sama. Waktu dan hidup kemudian menjadi dua hal yang sepatutnya disyukuri meskipun kadang tak mudah.

Ah! janganlah berpaling. Betul, pandemi menjadikan tahun ini menjadi tahun yang tak biasa bagi kita semua. Betul, resesi ekonomi melanda, banyak hal yang sudah direncanakan dengan baik dalam bentuk resolusi tahunan harus rela tertunda atau mungkin batal sama sekali.

Itukah alasan untuk menyerah? Bukankah perubahan nasib hanya untuk mereka yang mau terus bergerak dan berusaha?

Bulan ini, Oktober mengingatkan kita akan hari penting bangsa Indonesia, Hari Sumpah Pemuda. Harinya pemuda mengucap janji lalu dibuktikannya dalam tingkah laku.

Bicara tentang pemuda berarti kita sedang bicara tentang masa depan, tentang gagasan segar yang siap ditebar.

Seperti duet Abigail dan Grace meramu buku  Lalita : 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia. Dalam buku ini mereka menceritakan kisah perempuan hebat Indonesia dengan cara sederhana dalam bentuk cerita pendek diakhiri oleh kutipan yang mencerminkan perjuangan hidup tokoh tersebut. Tiap kisah memiliki ilustrasinya sendiri, karya illustrator muda Indonesia.

Perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang dan profesi mulai dari seniman, insinyur, bankir, olahragawan, ilmuwan, penyanyi, akitvis, jurnalis, galerist, pematung, perancang busana, fotografer, pembalap, presenter. politikus, pelawak hingga menteri.

Merekalah perempuan yang tidak hanya hebat, berprestasi, mandiri namun tetap mengingat akan kodratnya sebagai perempuan, istri dan seorang ibu.

Sesuatu yang layak untuk dijadikan contoh, ide unik yang ikut menggelitik rasa ingin tahu dalam diri untuk selalu terbuka terhadap hal-hal baru dalam hidup.

***

Diantara 51 tokoh perempuan itu, ada tujuh yang akan saya bahas diantaranya :

  • Okky Madasari – Penulis

“Jangan anggap remeh cerita dari ibumu, nenekmu, orang-orang di sekitarmu. Hal ini sebenarnya sangat berharga. Inspirasi bisa dari mana pun termasuk dari orang yang ada di sekitar kita.”

Dialah Okky Madasari, seorang jurnalis yang akhirnya memutuskan untuk menjadi penulis. Menulis menjadi media paling tepat baginya untuk menyampaikan kegelisahan dan perasaannya dengan bebas.

Novel pertamanya Entrok diterima sangat baik dengan tulisan menyentuh, berisi kritik sisi kehidupan yang sempat membuat gelisah hatinya. Dia pun percaya tulisan dapat menggerakkan hati, mengubah keadaan dan membuka pikiran banyak orang.

Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa diterimanya di usia yang masih terbilang muda. Satu penghargaan sastra Indonesia yang palig dihormati.

Baginya menulis tentang komitmen diri untuk terus berbagi. Artikel lain tentang menulis dapat dibaca di sini

  • Meira Anastasia – Penulis

Menjadi penulis telah mejadi impiannya sejak kecil, sebuah cita-cita yang berawal dari kegemaran membaca buku.

Ketidakpercayaan diri sempat menghambat tercapainya cita tersebut, kondisi itu terlihat oleh sang suami Ernest Prakarsa yang berprofesi sebagai sutradara.

Ernest mengajak Meira mengerjakan proyek film pertama mereka Susah Sinyal sebagai penulis naskah. Film yang memperoleh penghargaan untuk skenario terbaik di Indonesian Box Office Movie Award 2018.

Kepercayaan dirinya perlahan terpupuk, satu hal yang membuatnya berani menulis buku solo pertamanya Imperfect. Salah satu buku yang banyak menyelamatkan para wanita dari keterpurukan yang selama ini dijejali oleh lingkungan dan mindset yang keliru dalam menghadapi kekurangan pada diri sendiri.

  • Isabel dan Melati Wijsen

Berbelanja dengan membawa kantong belanja sendiri? Tidak ada lagi supermarket yang menyediakan kantong plastik? Perubahan besar yang terjadi di Bali sejak tahun 2019 ternyata berawal dari inisiatif dua remaja putri Isabel dan Melati.

“Cukup.” Isabel dan Melati terdorong untuk melakukan gerakan perubahan saat disadari kalau lingkungan tempat mereka tumbuh tidak sebersih dulu. Tumpukan sampah plastik menjadi pemandangan nyata.

Mereka memulai gerakannya dengan menemui Gubernur Bali, meskipun ditolak dan diremehkan banyak orang tapi menyerah tak menjadi pilihan.

Isabel dan Melati melakukan gerakan mogok makan selama 24 jam yang akhirnnya menyentuh hati Gubernur Bali dan mau menemui mereka. Pertemuan itu jadi gerbang pembuka munculnya gerakan Bye Bye Plastic Bag di Bali tepatnya di tahun 2019.

Mereka mendapatkan penghargaan “Anak Remaja Paling Berpengaruh” oleh Forbes, Times, dan CNN.

“Kami, anak-anak, mungkin 25% populasi dunia, tetapi kami adalah 100% masa depan.”

  • Butet Manurung

Kecintaannya pada hutan berawal dari buku bacaan yang membuatnya merasa terpanggil. Keinginan yang membuatnya memutuskan untuk mengambil ke jurusan Antropologi agar bisa berpetualang mengenal suku dan kebudayaan manusia.

Kesempatan meneliti pendidikan anak-anak hutan Jambi membawanya pada sebuah keputusan besar mendirikan Sokola Rimba. Sekolah bagi mereka anak-anak hutan agar tak lagi buta aksara.

“Ibu, kami sudah bisa baca-tulis, kok hutan kami masih habis?” pertanyaan membuat Butet menambahkan pelajaran advokasi, hak dan hukum agar orang rimba bisa melindungi hutan dan tanah mereka.

Butet terpesona akan petualangan dan hutan telah berhasil membuatnya meraih mimpi melalui “Sokola Rimba”. Sebuah hidup penuh petualangan, alam dan bisa berguna bagi banyak orang.

  • Sakdiyah Ma’ruf – Komedian

“Pencapaian terbesarku adalah bertahan sampai sekarang dan mengalahkan rasa takut. Terlepas dari semua situasi aku sejak kecil, aku masih hidup dan aku masih berkarya.”

Tahukah engkau hal apa yang paling sulit untuk ditaklukkan? Ya, Ego diri.

Sesuatu yang melekat pada diri kita justru menjadi satu hal yang paling awal menjatuhkan bila kita tak mencermatinya.

Seperti yang dialami seorang Sakdiyah, dibesarkan dengan cara yang keras tak lantas membuatnya terpuruk. Segera disadarinya dan keluar dari zona itu dengan mencari ‘pelarian’ positif yaitu pelawak.

Ketakutan dilawan dengan ketakutan. Ketakutan untuk tampil melawak di atas panggung jadi cara jitunya menaklukkan rasa takut dalam diri. Jadilah Sakdiyah seorang pelawak perempuan dengan ciri khasnya yang mengangkat isu-isu sosial di masyarakat.

  • Silvia Halim – Insinyur Konstruksi

“Silvia, kamu tidak mungkin berhasil!” Kata-kata sang guru yang marah karena Silvia ketahuan menjiplak tugas milik temannya. Dulu, Silvia adalah anak cuek, malas, tak suka mengerjakan tugas akhirnya berubah karena terlecut oleh kata-kata dari gurunya.

Prestasi gemilang mengantarkannya masuk ke Nanyang Technological University di Singapura mengambil jurusan teknik sipil. Di sana dia belajar tentang bagaimana merancang, membangun dan mengelola berbagai macam infrastruktur.

Kalian tahu siapa dia? Yup, dialah direktur konstruksi PT. MRT Jakarta. Hebat ya, seorang perempuan bisa mengepalai proyek sebesar itu. Pekerjaan itu berhasil membuktikan bahwa perubahan yang didasari dengan kemauan dari dalam diri akan membawa kita pada kesuksesan yang mungkin mustahil bagi orang lain.

“Kamu tidak akan pernah tahu kemana kesempatan-kesempatan diambil akan membawamu selanjutnya.”

  • Rini Sugianto – Animator

Pada tahu nggak siapa Rini Sugianto?

Dialah salah satu animator yang mengerjakan animasi film-film Hollywod seperti Iron Man, The Avengers, The Hunger Games, Ready Player One dan banyak lain.

Hebat ya, padahal Rini kuliah di jurusan arsitektur. Tapi, waktu akhirnya mempertemukannya dengan passion yang sesungguhnya.

Animasi memberinya ruang gerak yang luas tanpa perlu dibatasi dengan garis dan ukuran. Sesuatu teknik yang bisa melampaui imajinasinya, menggerakkan benda-benda mati, memberi mereka hidup di dalam film.

“Tidak peduli cepat atau lambat, langkah demi langkah akan membuatmu ke tempat yang kamu tuju.”

***

Selain tujuh cerita itu masih ada puluhan kisah inspiratif dan menyentuh lainnya. Tiap kisah punya arti dan ada yang melatarinya.

Buku ini termasuk salah satu buku motivasi yang patut dibaca generasi muda. Ya kamu, karena perubahan sepenuhnya ada ditangan mereka para penerus bangsa.

Kisahmu akan seperti apa?

***

Resensi ditulis oleh : Mina Megawati

Blog : www.minamegawati.com

Instagram : @mina.megawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *