Sawang Sinawang

“Urip kui mung sawang sinawang.”

Berkali-kali aku dengar kalimat itu dari nenek dan ibukku. Cerita apa pun yang kulontarkan selalu ditutup dengan kalimat itu. Aku sering mendengarnya hingga tak sadar aku hafal dengan kalimat itu.

Hari ini, tepat empat tahun aku meninggalkan kampungku dan merantau ke pulau ini. Mengejar mimpi hingga bisa menjadi kebanggaan keluargaku di kampung. Awalnya semua berjalan biasa saja. Waktuku sebagian besar kuhabiskan dengan bekerja, bekerja dan bekerja.

Tak kubiarkan diriku beristirahat walau sejenak. Bukan tak mau tapi tak bisa, ku tak bisa biarkan diriku istirahat. Semua kulakukan sesuai dengan rencanaku, banyak godaan tapi aku tetap tak bergeming. Tekadku satu, mewujudkan mimpiku menghajikan orangtua dan nenekku. Oleh sebab itu, aku menabung dan bekerja semaksimal mungkin.

Ternyata di tahun ke empat ini Allah mengujiku, tapi bukan hanya aku tapi semua manusia di bumi ini. Kami diterpa wabah yang membuat rencanaku berubah total. Separuh karyawan di tempatku bekerja di PHK, termasuk aku. Jika semua biasa teratur dan sesuai dengan rencanaku, sekarang itu semua hancur. Aku tak bekerja lagi, tak berpenghasilan lagi. Aku merasa Allah tak sayang lagi padaku. Aku merasa tak mampu melanjutkan hidupku. Semua di luar jangkauanku.

Wabah ini membuatku terpuruk semakin dalam. Yang kupedulikan hanya diriku, sengaja ku tak mau melihat orang lain. Aku takut dengan semua kemungkinan yang sudah ada di kepalaku. Dengan keadaan seperti itu, ternyata semangat ibadahku menurun juga.

Lagi lagi aku merasa Allah tak sayang padaku. Lagi lagi aku merasa hanya diriku seorang yang menderita, yang lain tidak seterpuruk aku. Beberapa waktu kulalui dengan menyalahkan Tuhanku.

Lama mendekam, menyalahkan tuhanku, kuputuskan untuk mencari udara segar. Kuniatkan untuk berolahraga sembari mencari sarapan di sekitar kosku. Biasanya tak sampai lima menit aku akan menemukan Bu Ipeh penjual nasi uduk di ujung jalan, tapi kali ini Bu Ipeh sepertinya tak jualan.

Di kelokan jalan raya itu terdapat warung nasi dan sayur mayur mentah, kudatangi untuk memesan nasi sekaligus membeli sayur mayur serta lauk untuk kumasak nantinya. Sembari duduk menunggu Bu Rahmi menyiapkan makanan, kupandangi sekitarku. Sepi, sunyi hanya ada satu, dua, kendaraan saja yang lewat. Tak lama kemudian Bu Rahmi mengangsurkan nasi uduk padaku. Kulihat wajahnya yang terlihat menua, entah karena telah lama tak berjumpa atau karena kondisi saat ini.

Sepertinya aku kelaparan, tak sampai lima menit sudah kuhabiskan nasi uduk itu. Sembari menunggu teh panasku menjadi hangat, kuajak bu Rahmi mengobrol.

“Lagi sepi ya bu? Biasanya rame banget orang beli nasi uduk ibu.”

 “Iya nak, semenjak wabah dan banyak yang di PHK warung ibu juga kena dampaknya, jadi sepi banget. Kadang malah cuman satu, dua orang aja yang beli nasi. Ibu jadi malas jualan kalo sepi, tapi nanti bingung ga ada pegangan uang. Ibu jualan seadanya saja.”

Aku yang mendengar jawaban bu Rahmi jadi tersadar bahwa wabah ini bukan hanya menghancurkanku, tapi semua. Ya Allah kemana saja diriku ini, aku merasa paling terdzalimi tanpa melihat sekitarku. Kini sepertinya aku paham arti kalimat yang sering digaungkan ibu dan nenekku, Urip kui mung sawang sinawang.

Aku selalu melihat kondisi orang sesuai dengan pandanganku saja, aku tak pernah melihat bagaimana dia memperoleh itu, bagaimana cerita dia mendapatkannya tak pernah kupikirkan.

Ya Allah, terima kasih kau masih memberiku rizki hingga saat ini. Aku tak akan menyerah, aku yakin selama aku berusaha pasti ada jalannya.

Terima kasih bu Rahmi sudah menyadarkanku dari kelalaian ini.

Oleh Nina Nur Azizah

10 Desember 2020

2 thoughts on “Sawang Sinawang

  • February 11, 2021 at 7:43 am
    Permalink

    boleh kasih krisan nggak?
    Dari buku seribu satu dosa penulis pemula karya pak Isa Alamsyah, dosa pertama adalah serangan “aku”.

    apa itu?
    jadi dalam satu paragraf terlalu banyak pengulangan kata yang sama atau pola yang sama.

    misal dalam paragraf pertama.

    Berkali-kali aku dengar kalimat itu dari nenek dan ibukku. Cerita apa pun yang kulontarkan selalu ditutup dengan kalimat itu. Aku sering mendengarnya hingga tak sadar aku hafal dengan kalimat itu.

    ada pengulangan kata aku/ku sebanyak lima kali. mungkin bisa di kurangin.

    menjadi.

    berkali-kali aku dengar kalimat itu dari nenek dan ibu. cerita apapun yang aku lontarkan selalu ditutup dengan kalimat itu. seringkali mendengarnya tanpa sadar aku menjadi hafal dengan kalimat itu.

    lumayan kan berkurang dua.

    mohon maaf sebelumnya.

    dari segi cerita sudah bagus 🙂

    Reply
    • February 15, 2021 at 10:16 am
      Permalink

      Waah terima kasih krisannya Mba Bintang

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *