Sepasang Mata di Balik Jilbab Biru

Mengenalmu lewat sentuhan kata di balik pertemuan singkat itu adalah hal terindah yang sulit dilupakan dalam rajutan kenang. Begitulah kata-katamu yang sering diucap tatkala perpisahan sudah tak bisa disatukan lagi. Serpihan kaca-kaca itu rasanya belum utuh untuk dikumpulkan lagi, baiknya di pajang dalam eatalase kaca yang bisa di lihat kala hati mulai berbisik.

“Septi biarlah rindu ini yang disatukan dalam doa, saat jarak memisahkan, saat raga tak lagi dipadukan, sebab itulah puncak dari kerinduan yang sesungguhnya,” kata Rifki sembari memberi senyum terindahnya. Aku hanya tersenyum kecut mendengar kalimatmu, kau memang pandai dalam mengambil kata-kata dari penyair kondang Sujiwo Tejo, dan memposisikan namamu sebagai pemiliknya. 

Kau memang dianugerahi banyak kelebihan, sebagai keturunan darah biru, cerdas dengan segudang prestasi diraihnya, terutama yang menyangkut soal debat bahasa arab selalu menggondol prestasi yang cukup membanggakan, anehnya kau kurang cakap dalam dunia percintaan, seperti anak-anak yang masih belajar dan mengharuskan untuk dituntun agar tidak salah jalan. Cukup riskan rasanya karena dirimu kurang peka pada yang namanya perasaan. Terlalu membosankan bagiku jika dibenturkan dengan kepribadianku yang kurang mengenal lebih jauh seputar agama, dan hanya disibukkan dengan dunia pergerakan di kampus. Sedangkan dirimu senantiasa bergelut dengan kitab-kitab gundul; lembaran-lembaran kertas warna kuning dengan tulisan-tulisan Arab tanpa harokat. 

Maka dengan penuh kesadaran aku hanya bisa terdiam sejenak untuk mengingat-ingat kenapa hatimu malah jatuh ke tanganku, mengharuskan bagiku untuk menerima, menggenggam lalu mencoba menjadi pelengkap dari tulang rusukku yang hilang. Entah dari sudut manakah kau menggenapi kegelisahanku selama ini. Aku hanya pasrah mungkin saja ini awal dari kisah yang telah dituliskan dalam Lauhul Mahfudz, bahwa aku pun juga dirimu adalah satu.

Memang pada awalnya aku menganggap itu sebuah kebetulan, pertemuan tanpa disengaja dan melahirkan tanya tanpa duga. Saat dengan polosnya aku menerima tawaran darimu untuk bisa menjadi asisten pribadimu dalam mengawal segala kegiatan yang ada di kampus, terutama yang menyangkut memobilisasi massa agar bisa berkumpul dalam satu komando. Aku hanya mengamini tanpa curiga sedikitpun akan lahirnya sebuah rasa. Karena jelas ini merupakan kesukaanku, bergelut dengan dunia pergerakan, ikut terlibat dalam aksi-aksi lapangan dengan terik panas pun juga hujan tak menjadi halangan untuk bertahan. Termasuk ketika ada pemangku kebijakan di kampus melakukan aksi manipulasi data administrasi keuangan milik mahasiswa. Maka dengan penuh keberanian aku mencoba mencari data-data yang akurat dan seobjektif mungkin. Sejak itulah namaku tenar di kalangan kampus untuk yang kesekian kalinya.

Tak habis pikir rasanya jika pertemuan-pertemuan singkat itu dan terkadang dibumbui senyum sesekali, menjadi pesona tersendiri untuk melancarkan aksi memberi sekaligus menerima informasi seputar keilmuan; baik yang menyangkut dunia kampus ataupun di luar kampus nyata membuatku terkagum-kagum. Kau yang keturunan kiai terkenal dengan segudang ilmu yang dimiliki sejatinya membuatku semakin bernafsu untuk terus menimba ilmu, mengisi kerontang jiwa hingga lupa bahwa ruang peristirahatan kesekian telah mempertemukan segalanya tentang kita. 

Bagaimana tata cara menjadi muslimah yang sesungguhnya, yang tahu akan pentingnya menjaga amalan-amalan ubbudiyah sehari-hari, pentingnya perempuan dalam berhijab dan menjaga auratnya, bahkan tentang tata cara dalam bersuci. Sempat heran jadinya ketika kau menjelaskan dengan rinci akan macamnya darah. Baik haid, nifas, istihadah. Padahal jelas saja kau belum melihat, apalagi merasakannya. Sungguh aneh memang, tapi itu nyata dan kusadar bahwa belum sepenuhnya aku menjadi perempuan yang bisa mengaminkan permintaanmu. Jauh di dasar hati telah banyak dosa telah memenuhi sekat-sekat dalam lumbung tubuh.

Rasanya malu sekali ketika kau dengan tulusnya memintaku untuk menjadi makmum yang baik, yang bisa mengingatkan sang imam ketika salah dan lupa. Awalnya aku menganggap permintaanmu sebagai upaya mengingatkan antara kakak kepada adiknya. Tapi mengapa seiring perubahan hari juga pertemuan yang kian tak bisa dijadwal dengan rapi, nyata malah bermunculan perasaan yang justru membuatku jadi tak menentu, malah semakin memperdaya hingga lupa pada segala. Lupa bahwa kita statusnya berbeda jauh, baik talian darah, kapasitas keilmuan juga tak lupa tingkat kesejahteraan dalam keluarga kita masing-masing.

“Kenapa kau tampak ragu dengan keputusanku Septi, apalagi yang kurang dariku hingga kau membuat jarak untuk memberi jawaban akan pertanyaanku itu,” semilirnya angin senja sepertinya hilang dalam dekapan malam, sunyi senyap dan benar-benar tak memberi daya sedikitpun.

“Aku seperti pungguk yang merindukan bulan Rif, kau laksana purnama di ketinggian yang mampu menyinari seluruh alam, sedang diriku hanya lilin kecil di sudut-sudut gubuk kecil dan hanya terang sesaat pada sekeliling, tak bisa memberi kekuatan pada diri yang terbakar perlahan,” aku membuang muka dihadapanmu, rasanya aku tak kuat menanggung ketakutan yang besar jika sampai memberimu harapan.

“Kata-katamu terlalu berlebihan menilaiku Septi, aku hanya manusia biasa sama sepertimu, aku jadi semakin tidak mengerti perihal kata-katamu itu.”

“Aku bukan berlebihan Rif, ini fakta, bukan hanya sekedar bualan semata yang hanya bisa dijadikan dongeng pengantar tidur,”

“Cobalah perjelas arah pembicaraanmu kemana, agar nanti aku tidak salah dalam menafsirkannya.”

“Baiklah,” nafasku mulai diatur sejenak, sebelum kata-kata itu benar-benar  muncul dari peristirahatannya.

“Aku ini hanya sebatas perempuan biasa yang penuh dengan kekurangan. Pekerjaanku hanya disibukkan dengan dunia pergerakan juga perdebatan di ruang-ruang meja hijau, selalu sibuk menata konsep yang telah diajarkan Karl Max, Jossep Stallin atau pemikir yang berhaluan kiri produk negri kita serupa Tan Malaka, beda denganmu yang selalu bergelut dengan sabda-sabda Tuhan penuh dengan kebajikan, linang mutiara kehidupan senantiasa terpancar dalam setiap perkataanmu, kau pula keturunan kiai terhormat yang disegani banyak orang, pun juga kehidupan yang telah mapan. Jelas itu perbedaan yang sangat tampak. Lalu kenapa kau masih ngotot memilihku?” kepalaku tertunduk seketika, dengan air tumpah pada sudut mataku.

“Kenapa kau tampak sekali merasa ketakutan, apa dalam agama mengharuskan manusia memiliki ikatan dengan yang sepadan tingkat keilmuannya, dalam hal pendapatannya. Jika niatanku ingin mengubah segala hidupmu menjadi lebih baik, dari yang sebelumnya hanya sebatas manusia yang disibukkan dengan kehidupan jalanan, penuh dengan konsep-konsep di meja perdebatan, maka saat ini jika memang kau menyetujuinya, insyaAllah akan ada jalan lurus yang mampu memberi kita keberkahan menuju jannahnya,”

“Benarkah?”

“Tentu, dan kau tak perlu meragukannya. Dan satu lagi ini ada hadiah tepat di hari ulang tuamu yang ke-21, ” katanya sembari menyerahkan jilbab biru polos dengan manik dan rumbai-rumbai halus di sisinya. Aku mulai tersenyum menerimanya juga tatkala mendengar keteguhan sikapmu, lalu mencoba menafsiri dengan sentuhan kata ‘baiklah’, aku menyerah untuk bisa mengabdi kepadamu, mengalah untuk mencoba menyiapkan diri menjadi calon makmum seperti yang kau pinta.

Sejak itulah aku berusaha menseriusi hubungan ini, terlebih pengharapan-pengharapan yang dia berikan sungguh memanjakan angan. Harapan untuk segera mengenalkan orang tuanya dan meyakinkan keduanya bahwa diriku adalah pilihan yang tepat baginya.

“Kapan aku dikenalkan ke orang tuamu, bukankan keseriusan itu perlu disegerakan?” desakku memecah senja kali ini.

“Sabar Dik, semua ada waktunya kok,” jawabmu seperti mengambang.

“Dua minggu yang lalu kau juga pamanmu sudah melamarku, tinggal sebaliknya aku juga ingin segera tahu pada orang tuamu.” 

“InsyaAllah minggu depan kamu sama keluargamu bisa ikut serta pergi ke rumahku,” senyummu mencoba mencairkan suasana, ketenangan ku mulai tertata untuk beberapa saat.

Dan kita mulai menata jadwal pertemuan dengan keluargamu, harapanku mulai tumbuh satu persatu seiring kekagumanku yang mungkin terkesan berlebihan. Aku yang hanya babu yang ditemukan di sudut-sudut jalan berdebu nantinya akan bermetamorfosis menjadi seorang ratu, dan menjelma menjadi teladan bagi perempuan-perempuan seusiaku di pertengahan tahun masa pernikahanku nanti. Tentang ikatan pernikahan yang tak memandang kelas sosial, perbedaan keilmuan bahkan pendapatan sekalipun dan paling ditakuti banyak orang terutama perempuan yang dilanda kebingungan dalam memberi keputusan. Dan aku disanjung oleh ribuan mata hingga sejarah mencatat dalam buku-buku motivasi atau roman picisan yang banyak disorot tajam oleh perempuan-perempuan milenial.

Kukenakan jilbab biru yang kau hadiahkan tempo dulu, dipadu dengan setelan baju batik khas Pekalongan, tenang rasanya jika memakainya. Terlebih ini hari di mana aku akan mencatatkan sejarah sebagai menantu Kiai Sobri juga Nyi Halimah. Deg-degan rasanya aku melewati halaman demi halaman tempat kediaman orang tuamu, cukup besar memang dengan bilik-bilik pondok yang dipenuhi ratusan santri sedang melakukan beragam rutinitasnya. 

“Mari  Bapak, Ibu silahkan masuk,” aku bersama keluarga dengan masih canggung memasuki ruang pertemuan yang cukup luas dengan hiasan kaligrafi Arab yang berjubel di dinding. 

“Silahkan duduk Bapak, Ibu,” tiba-tiba seorang dengan sorban putih yang dililitkan di kepalanya menyilahkan duduk. Tak lama suguhan teh dan kopi ditemani cemilan ringan ikut pula menyertai obrolan kami siang itu. 

“Saya selaku orang tuanya Rifki menyampaikan terima kasih atas kesudian Bapak-Ibu bisa hadir  ke rumah kami. Jujur saya sendiri kaget ketika dengar kabar dua hari sebelumnya bahwa Rifki ditemani pamannya telah mengadakan acara lamaran ke rumah Bapak,” deg, aku merasa heran sekali dengan perkataannya. Ada hal apa di antara mereka kok sampai tidak ada kesepakatan yang jelas dalam keluarganya sendiri?.

“Padahal nak Rifki  sudah dijodohkan jauh-jauh hari dengan Sitti Rosiana putri kiai Maksum,” derap nyinyir kepedihan sepertinya telah dibunyikan, membuat kepalaku pening untuk beberapa saat. Tak habis jadinya untuk mendengar semua obrolan dalam percakapan siang itu. Ingin berteriak melepaskan semuanya, hingga tak ada beban yang tersisa. Tapi naïf, kuasa tak bisa memberontak, dan hanya sebatas bersembunyi di balik jilbab biru pemberiannya dengan derai tangis membanjiri.

Oleh : Hazin Ma Leo

Lahir di Sumenep, 8 Agustus 1993, tulisannya terkumpul dalam antologi cerpen “tora”, kini tinggal di Denpasar Bali.

2 thoughts on “Sepasang Mata di Balik Jilbab Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *