Stop Buta dan Tuli Terhadap Bully

Photo of author
Written By flpbali


Perilaku buta dan tuli terhadap bully/perundungan masih terjadi di sekitar kita. Terlebih jika korbannya adalah anak kecil, banyak dari orang dewasa yang tidak menanggapinya. Mereka melihat/tahu tapi seolah tidak tahu, mereka mendengar tapi memilih netral seolah tak mendengar. Jelas ini bisa menjadi gejala meluasnya bully yang berbahaya.

Beberapa waktu lalu seorang ibu menangis dihadapan saya saat mendengar anaknya tidak naik kelas. Menurut kabar, si anak jarang masuk sekolah sehingga tidak naik kelas. Lantas si ibu bercerita jika anaknya tidak mau masuk sekolah karena sering di-bully teman-temannya. Sempat si Anak mengadukan ke orang dewasa di sekitarnya, tapi tidak ditanggapi. Miris hati saya mendengar itu. Pasti parah sekali perundungan yang didapat si Anak sampai ia tidak mau lagi pergi ke sekolahnya.

Usai cerita di atas mampir di telinga saya, datang lagi seorang ibu yang menceritakan jika anaknya tidak mau masuk sekolah dengan kasus yang sama. Si Anak berniat mogok sekolah. Jujur, saya sangat prihatin mendengar itu. Lagi-lagi terjadi dan telah merenggut keceriaan anak belajar dengan nyaman di sekolahnya. Jika ini dibiarkan bisa bertambah korban selanjutnya.

Hal di atas adalah contoh kasus double perundungan. Saya katakan double perundungan karena si anak mengalami dua tekanan sekaligus. Pertama, tekanan karena mendapatkan perundungan oleh temannya sehingga ia tersakiti. Kedua, mendapatkan tekanan batin karena aduannya tidak ditanggapi oleh orang dewasa di sekitarnya. Jelas yang kedua ini bisa membuat anak korban bully merasa sangat terancam karena tidak mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari orang dewasa di sekitarnya. Ketika mengadu, ia berharap mendapatkan bantuan dan perlindungan untuk menyelesaikan masalahnya.

Namun itu tidak ia dapatkan sehingga dirinya merasa selalu dalam bahaya.
Kenapa sebagian orang dewasa abai dengan aduan anak kecil perihal bully? Faktor pertama bisa jadi karena bukan keluarga dekatnya sehingga berpikir tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, apalagi urusan anak kecil. Kedua, menganggap masalah yang disampaikan terlalu sepele sehingga tak perlu untuk ditanggapi. Contoh, ada seorang anak mengadu pada pamannya, “Paman, aku tadi diejek ‘jelek’ sama temanku. Aku malas main kalo diejek terus, Paman.” Paman hanya diam dan tidak menggubris karena dianggap tidak fatal atau penting. Jelas itu sudah membuat anak kecewa. Ya, kalau dia anak yang kuat, jika ternyata dia lemah, maka bisa minder dan berputus asa dalam pergaulan. Setidaknya berikan nasihat, bantu luruskan permasalahannya agar selesai sehingga kembali nyaman bermain.

Nah kemudian, jika kita lihat dari sudut pandang pelaku, maka para pelaku bullying cenderung tidak jera. Kenapa tidak jera? Tentu karena mendapatkan pembiaran dari sekitar. Pembiaran ini sangat berbahaya. Bahaya pertama bisa menimbulkan korban baru. Kedua, perilaku bullying bisa menular kepada anak-anak lain sehingga secara otomatis memperbanyak jumlah pelaku pembulian di sekitar kita.

Melihat kasus di atas bisa kita cermati kenapa bullying terus menjamur. perundungan sulit dimusnahkan dari pergaulan bukan hanya karena adanya kesempatan, tetapi juga karena kurangnya kepedulian dari sekitar. Terlebih jika yang mengalami perundungan adalah anak kecil. Padahal jelas secara kemampuan, anak-anak belum mumpuni untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri. Secara fisik ia lemah, secara psikis belum stabil. Selain itu, tingkat beban masalah yang sanggup dihadapi anak sangat berbeda dengan kemampuan orang dewasa. Ringan bagi kita, bisa jadi sangat berat buat anak-anak. Contoh nyata yang pernah saya lihat. Ada anak yang menangis dan bersembunyi di bawah meja hanya karena tidak membawa kotak pensil. Bagi saya sebagai seorang dewasa itu hal kecil, tapi bagi anak-anak itu adalah masalah besar. Mungkin dia takut dimarahi gurunya, takut meminjam ke temannya, dan rasa depresi lain yang menyelimuti pikirannya. Jadi, jangan menyamakan beban masalah anak-anak dengan standar kita sebagai orang dewasa. Sebab bisa jadi bagi kita masalah kecil, tetapi bagi anak-anak adalah masalah besar.

Untuk itu saya mengajak kaum dewasa agar lebih mendengar dan empati pada kaum rentan bully ini. Tapi apakah ini tidak termasuk dalam memanjakan anak-anak? Jelas tidak. Justru ini bagian dari pendidikan. Kepedulian yang kita berikan secara otomatis akan mengajarkan mereka untuk memiliki rasa empati kepada orang yang mengalami hal sama sepertinya. Selain itu, anak juga dapat belajar bagaimana menghadapi masalah seperti kita menyelesaikan masalahnya. Ayo, stop buta dan tuli terhadap bully! Jadilah orang dewasa yang peduli, empati, dan pemberi contoh penyelesaian masalah bully. 😊

Penulis:

Dwi Rahayu, S,Pd. Dwi adalah seorang guru di MTs dan MI Nailul Huda Jimbaran. Terlahir di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, 38 tahun silam. Saat ini aktif di berbagai kegiatan literasi termasuk di Forum Lingkar Pena Bali.

Leave a Comment