Covid-19; Kesunyian Bali dan Esensi Catur Brata Penyepian

Gambar oleh @mina.megawati

Kini, Bali dalam kesunyian. Covid-19 yang membuatnya jadi begini. Sudah setahun lebih tak banyak wisatawan hilir-mudik. Bapak-Ibu tak lagi pulang bawa uang banyak. Ada yang terpaksa dirumahkan, ada juga yang terpaksa menutup tempat usahanya. Kementrian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat hingga 31 Juli 2020, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan mencapai 3,5 juta lebih. Kondisi yang menuntut kami untuk segera berubah. Roda kehidupan tidak lagi seperti dulu. CNN Indonesia merangkum data kerugian Pariwisata Indonesia sebesar Rp 138.6 triliun atau US$9 miliar (mengacu pada kurs Rp15.400 per dolar AS).

“Potensi kerugian sepanjang 2020 ini kurang lebih US$9 miliar, yang paling besar adalah wisata tirta,” ungkap Ketua Umum GIPI Ida Bagus Agung Partha Adnyana pada Jumat (24/4).


Penurunan pendapatan pariwisata Bali telah terjadi sejak Februari 2020. Tren penurunan terus terjadi pada Maret 2020, angka wisman anjlok sebesar 42,32 persen. Sementara untuk April, per 13 April 2020 dilaporkan penurunan kunjungan sebesar 93,24 persen.

Bapak-Ibu di rumah mulai kebingungan. Kebutuhan mana yang mesti didahulukan, mana yang dikesampingkan. Sementara anak-anaknya tak mau tahu, tetap saja banyak menuntut. Padahal Bali mereka tak lagi berdaya.

Dalam perenungan panjang kita perlahan memahami, bahwa tak ada yang abadi. Tak ada yang bisa menjamin semua kelanggengan tanpa limit masa. Kekayaan, kebahagiaan, kekuasaan, kebanggaan hanya melekati kita dalam waktu tertentu.

Di antara ketidakpastian, kita semua harus berjibaku dengan banyak perubahan. Ada yang siap, namun banyak yang terengap-engap. Kondisi yang menyadarkan kita bahwa kesunyian itu dihadirkan Tuhan untuk menyadarkan, membawa kita kembali ke titik nol, lalu bangkit dengan sesuatu yang baru.

Harusnya, sebagai orang Bali, kita sudah terbiasa dengan keheningan. Setiap tahun, Bali merayakan hari raya Nyepi, dan Catur Brata (empat tindakan pengendalian diri) menjadi syarat untuk menggenapi dan menguatkan esensi Nyepi itu sendiri. Tapi, kami masih juga lalai. “Oh, Tuhan.”

Dalam Catur Brata ada empat bentuk pengendalian. Diantaranya yaitu Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelanguan, Amati Lelungan. Empat hal yang bila dilihat dari esensinya ternyata tidak selalu berarti larangan, tapi pengendalian ke dalam diri.

Mari kita telaah satu-persatu.

Amati Geni (Tidak Menyalakan Api)

Api di sini tidak hanya bermakna api sesungguhnya seperti api di atas kompor, api lilin, api (cahaya) lampu. Tapi api yang berarti sifat Ego pada diri setiap manusia. Sifat mementingkan dirinya sendiri tanpa mau memedulikan diri sesama. Lalu, apa kaitannya dengan Covid-19?

Pandemi berkepanjangan menegur kita untuk tidak hanya terfokus pada kepentingan diri sendiri. 24 jam yang kita lalui bisa saja hanya disibukkan dengan perihal pekerjaan tanpa peduli adanya aspek di luar diri. Padatnya kesibukan membuat kita lalai mendengarkan tubuh yang mungkin sudah lelah, acuh pada mereka yang membutuhkan.

Bicara tentang ego, pastilah kita langsung berfikir sesuatu yang negatif, padahal tidak seperti itu lho. Teori Sigmund Freud, seorang psikoanalisis menyebut kalau kondisi mental memiliki tiga struktur yaitu Id, Ego dan Superego.

Struktur paling bawah adalah Id yaitu dorongan yang bersifat agresif seperti yang dimiliki hewan. Dorongan yang membuat manusia berfikir pendek untuk memenuhi hasratnya. Biasanya, yang seperti ini cenderung ke arah yang lebih buruk.

Struktur Superego adalah struktur teratas yang mendorong manusia untuk bisa diterima di lingkungannya. Ini mengarahkan kita kepada norma-norma sosial, membuat manusia lebih beradab. Apabila manusia didominasi oleh Id, maka cenderung akan berbuat hal yang impulsif, tidak adanya kepedulian akan tatanan dan norma. Tapi, bila Superego yang mendominasi, akan menjadi seseorang yang disebut neurotik. Kepribadian akan mengarah pada kemunafikan.

Nah, oleh sebab itu menurut Freud, orang yang sehat adalah orang yang mampu mengendalikan keduanya. Di sinilah perlunya peran Ego yang berada di struktur tengah. Ego berperan pada prinsip keseimbangan, kapan harus marah (karakter Id), kapan harus patuh pada peraturan (karakter Superego).

Esensi Amati Geni, akan membantu mengasah sisi Ego manusia untuk berada pada keseimbangan yang tepat.

Amati Karya (Tidak Melakukan Aktifitas Pekerjaan)

Amati Karya artinya bekerja atau pekerjaan, dan profesi yang sedang kita jalani. Dalam konteks ini, larangan bekerja berarti kita diminta untuk evaluasi apakah pekerjaan kita sudah menurut swadarma (kewajiban diri sendiri)?

Sebagai manusia, tujuan mendasar kita berbuat baik adalah untuk memperbaiki kualitas jiwa. Banyak dari kita harus kehilangan pekerjaan akibat sepinya pariwisata Bali. Pukulan telak bagi mereka yang bekerja untuk menghidupi keluarga. Namun, di balik hal tersebut ada hal yang semesta ingin perbaiki.

Apakah pekerjaan kita untuk membawa dampak baik buat diri kita? Sudahkan kita jadi bermanfaat dari pekerjaan yang kita lakukan? Dan yang paling mendasar, apakah pekerjaan tersebut sudah kita lakukan dengan baik, tanpa keluhan, tanpa umpatan sepanjang melakukannya. Bila selama ini darma atau pekerjaan tidak membuat kita jadi lebih baik, maka mulailah kembali dari titik ini.

Gambar oleh @mina.megawati

Amati Lelanguan (Tidak Melaksanakan Kegiatan)

Amati Lelanguan berarti tidak melaksanakan kegiatan, seperti makan, minum, nonton TV, bermain gadget, dan kegiatan sehari-hari lainnya. Maksudnya di sini, kita diminta melakukan meditasi, hening sesaat agar bisa memusatkan perhatian pada pada diri sendiri.

Nah, kalau yang ini apa ya kaitannya dengan pandemi corona yang melanda negeri?

Bisa disimpulkan sebagai permintaan untuk tidak lupa berfokus pada diri, pada apa yang terjadi saat ini. Kadang riuhnya aktifitas membuat kita jadi manusia super aktif. Keaktifan yang kadang berlebihan sampai lupa menikmati apa yang sedang dikerjakan.

Bangun pagi hari sudah sibuk mengurusi dapur, lalu mandi terburu-buru. Kerja ingin cepat selesai, makan asal suap dan kadang sambil main handphone. Beribadah seadanya yang penting menuntaskan kewajiban. Segala sesuatu dikerjakan dengan terburu-buru (rush) akibatnya jadi lupa menikmati, lupa untuk mindful.

Mengutip pernyataan dari Thich Nhat Hanh, seorang penulis, penyair, aktivis HAM, “Mindfulness adalah kesadaran dan perhatian penuh terhadap apa yang terjadi di dalam diri kita dan apa yang sedang kita lakukan.”

Sudahkan kita mindful, sudahkan kita berada pada masa sekarang, menyadari setiap gerakan yang terjadi pada diri kita?

Amati Lelungan (Tidak Bepergian)

Saat perayaan Nyepi kita dilarang untuk bepergian keluar rumah. Tujuannya untuk membuat suasana sekitar jadi lebih hening, tubuh kita rehat sesaat, dan yang terpenting menutup diri dari hal-hal negatif di luar diri.

Bila dihubungkan dengan kondisi saat ini, pandemi memaksa kita untuk lebih banyak berdiam di rumah (stay at home), menjaga jarak (social distancing) dengan tujuan agar penyebaran virus bisa dikendalikan. Meski nyatanya kita perlu ekstra perlindungan diri untuk bisa terhindar. Seperti penerapan 3 M (Mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak) tak cukup tanpa penguatan sistem imun dari dalam diri.

Berdiam di rumah tak lantas membuat kita hanya diam tanpa melakukan apapun. Justru ini bisa jadi celah mengasah kreatifitas. Ada yang memanfaatkannya untuk menjajal kemampuan baru seperti mengikuti kelas design, memasak, menulis. Menggeliatnya kelas-kelas daring, jadi satu inisiasi yang bisa mendekatkan yang jauh. Mereka (para mentor) yang dulunya terasa untouchable karena kelasnya berlangsung luring. Kini, terasa tanpa sekat, kita pun tak perlu mengeluarkan uang ekstra untuk akomodasi, dan lainnya.

***

Bila dilihat dari sudut padang yang lebih luas, Catur Brata Penyepian tidak terkhusus hanya untuk orang Bali. Kita dapat memaknai ini lebih general, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara berbeda, cara yang nyaman menurut diri dan tentunya membawa dampak baik.

Lalu, setelah semua pemahaman itu, masihkan perlu merutuki kesunyian ini?

***

Esai oleh Mina Megawati

Sumber data:

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200424184540-92-497101/pariwisata-bali-rugi-rp138-t-karena-corona

https://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi

https://travel.tempo.co/read/1182924/umat-hindu-bali-jalani-catur-brata-penyepian-ini-4-pantangannya

https://womantalk.com/news-update/articles/marissa-anita-lebih-memaknai-hidup-berkat-pola-pikir-mindfulness-xjmXd

https://www.youtube.com/watch?v=4wKh265mCiA

https://greatmind.id/article/memahami-ego-dalam-diri idi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *