Itu adalah Burung Gereja


oleh Indah Dewi Rachmawati (anggota FLP Denpasar)

Kasih ibu sepanjang jalan, sedangkan kasih anak sepanjang gang. Mungkin kalimat itu sudah sering kita dengar sejak kecil, begitu juga dengan saya. Saya percaya dengan kalimat itu karena cinta dan kasih kita kepada orang tua penuh dengan mengharap imbalan sedangkan orang tua kita tidak pernah sedikitpun megharapkan imbalan dari kita. Mereka justru dengan senang hati akan memberikan semua cinta dan kasih sayangnya kepada kita, bahkan mengorbankan jiwa dan raga pun mereka akan lakukan demi kita. Mereka dengan sangat bersabar membimbing dan mengajari kita sejak pertama kita lahir ke dunia, bahkan sampai saat ini kita juga masih dalam bimbingan mereka. Saya teringat oleh video yang kemarin saya tonton. Di video tersebut menceritakan seorang ayah sedang duduk bersama anaknya yang sedang membaca koran. Tak lama kemudian datanglah seekor burung gereja dan sang ayah bertanya pada anaknya “apa itu?”. Sang anak berhenti membaca dan melihat apa yang ada di hadapan mereka, lalu ia menjawab “itu adalah burung gereja”. Sang ayah kemudian bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Mendengar pertanyaan tersebut, sang anak marah karena dia merasa sudah menjelaskan ayahnya berulang-ulang, sampai akhirnya sang anak berkata “apa yang sedang ayah pikirkan”. Mendengar ucapan itu, sang ayah masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian sang ayah datang sambil membawa sebuah buku dan dia duduk di samping anaknya. Dia membuka buku itu dan memberikan kepada anaknya sambil berkata “bacalah yang keras”. Sang anak kemudian membacanya dengan keras “hari ini putra bungsuku yang berusia tiga tahun bertanya kepadaku sebanyak 21 kali, ayah apa itu? Dan aku pun menjawab sebanyak 21 kali tanpa marah sedikitpun bahwa itu adalh seekor burung gereja. Setiap putraku bertanya, aku selalu memeluknya berulang-ulang”. Setelah melihat video itu sayapun tersadar bahwa tokoh sang anak dalam video tersebut adalah cerminan dalam diri saya. Mungkin juga termasuk anda. Kita sangat marah ketika orang tua kita menanyakan sesuatu yang sama kepada kita karena kita merasa sudah menjelaskannya dan tentu saja pertanyaan itu sangatlah mengganggu kesibukkan kita. Akan tetapi bertolak belakang dengan apa yang mereka lakukan kepada kita. Mereka tidak pernah sedikitpun mengeluh atau marah saat mengajari kita. Bahkan pertanyaan yang kita ajukan justru lebih banyak dari mereka. Mereka justru sangat senang dengan perkembangan yang kita alami. Bahkan mereka memberikan kasih sayangnya kepada kita. Pikirkan dan renungkanlah wahai teman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *