Merah di Pipi Humairah

“Aku sayang kakak. Apapun kata Ibu nanti, please jangan tinggalin aku ya kak.”

Sarah memelukku. Lebih erat dari biasanya. Wajahnya membenam didadaku. Kurasa basah bagian depan kemeja karena air matanya. Dadaku menghangat. Mataku memanas. Aku hampir menangis.

“Iya sayang, aku janji,” kukecup kening gadisku.

Namanya Sarah. Gadis manis yang kukenal beberapa tahun lalu dalam sebuah pentas di sanggar tari dekat SMA kami. Dia adik kelasku. Setelah lulus SMA, kami merasa ada rasa yang istimewa diantara kami. Hingga kami bersepakat menjalin hubungan lebih dari sekedar teman sanggar. Kami resmi berpacaran.

Sebagai seorang muslim, Sarah memiliki bakat dan kecintaan yang luar biasa terhadap seni tari Bali. Hal yang kurasa jarang dimiliki gadis keturunan Jawa lainnya. Sementara aku memilih menyalurkan hobi dan kecintaanku pada gamelan. Bersama beberapa teman pria sebaya, aku sering mengisi acara-acara seni di beberapa tempat. Kadang Sarah juga ikut terpilih untuk tampil bersama kami.

“Tapi ibuku pasti akan menolak hubungan ini kak. Kenapa kita harus bilang ke Ibuku? Kita backstreet aja. Toh tiga tahun belakangan ini berjalan baik-baik saja.”

Kutatap dalam mata Sarah yang masih berair. Tangan kananku spontan mengusap pipinya yang basah dan menyapu rambutnya yang menutupi sebagian matanya. Aku sangat menyukai rambut gadis ini. Lurus, halus dan hitam legam, khas rambut Indonesia. Ia bahkan memanjangkan rambutnya sampai pinggang. Memaksa kecantikan pribadinya semakin terpancar.

“Ya dik, aku tau kekhawatiranmu. Tapi tidak mungkin kita seperti ini terus. Dan lagipun ada sesuatu yang menggerakkanku untuk menemui Ibumu lebih dulu. Sebelum akhirnya kita mengambil keputusan lebih jauh tentang masa depan hubungan kita.”

Kami mengakhiri percakapan dan melenggang menuju motor ninjaku. Kami melaju dengan kencang menuju Pantai Muaya Jimbaran, tempat kami menghibur diri dan menikmati senja di Pulau indah ini.

***

Mengapa Tuhan menciptakanku tidak seperti mauku. Apa yang diinginkannya dariku. Aku tidak pernah menuruti kemauanNya, bahkan kemauan orang tuaku sekalipun. Aku memiliki perbedaan yang sudah ku tampakkan sedari kecil. Orang tuaku bahkan tidak benar-benar menginginkanku setelah putra-putra sebelumnya terlahir sempurna dan membanggakan bagi sebuah keluarga hindu. Tiga putra sudah sangat membahagiakan, sebelum akhirnya aku memaksa melihat dunia sebagai Ketut di keluarga kami. Di tengah kesuksesan program Keluarga Berencana dua anak di provinsi Bali, ditambah  harapan tuntas keluargaku dengan anak laki-laki, maka aku tak perlu memaksakan diri untuk hadir diantara mereka.

Sampai akhirnya aku memberanikan diri bertemu ibu Sarah untuk memberi pengakuan mengejutkan. Apapun hasilnya, aku akan tetap memiliki Sarah dan berencana untuk pergi meninggalkan keluarga kami masing-masing. Kemudian kami akan memenuhi takdir yang kami ingin jalani berdua. Namun sejak hari itu pula, rencana bahkan pandanganku tentang takdir Tuhan seketika berubah.

Aku memarkir motor di depan gerbang bercat putih setinggi dada. Aku bisa melihat bagian luar rumah itu dengan jelas. Garasi seukuran 2×3 meter hanya dihuni dua motor matic. Di sebelah kirinya terdapat kebun kecil yang ditumbuhi beberapa jenis tanaman hias. Kulihat juga beberapa bunga jepun berwarna merah jambu yang menjadi ikon provinsi Bali menghiasi kebun mungil itu. Dua kursi besi dan meja kecil berwarna putih coklat senada menyapa di samping pintu depan yang juga berwarna putih.

Aku memencet tombol bel disamping kiri pagar. Terlihat pintu rumah terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya mengenakan mukena putih berjalan keluar menuju arah pagar. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 08.34 WITA. Masih ada ibadah juga jam segini? batinku. Kukira hanya subuh saat matahari belum nampak atau siang hari saat terik dan ditambah tiga waktu lainnya.

“Cari siapa?” tanya ibu itu membuyarkan lamunanku.

“Sarah, Bu. Kami sudah ada janji.”

“Temannya Sarah ya? Jay…”

“Kak, ayo masuk.” Sarah memotong ucapan ibunya saat akan menyebut sembari mengingat-ingat namaku. Artinya Sarah sudah bercerita tentangku pada Ibunya, namun sebagai teman. Lalu bagaimana pendapatnya terhadapku? Aku ingin tahu.

Ibu Sarah terlihat masih cantik di usianya yang tidak lagi muda. Ditambah balutan mukena yang menutupi sebagian kepala dan badannya, menonjolkan kecantikan paras wajahnya yang tak dapat teralihkan oleh hal lain. Jelas kecantikan Sarah berasal dari sini. Wajah cantik dan teduh dipandang. Sangat mempesona.

“Mau minum apa nak?”, tanya wanita cantik itu.

” Air putih saja, Bu.” jawabku spontan. Tak terpikir jenis minuman lain akibat lamunan yang mendadak buyar.

“Sudah kubuatkan minum, Bu. Kopi hitam kesukaan Kakak.”

Sarah datang membawa secangkir kopi hitam panas  dan segelas teh hangat untuk Ibunya.

Kulihat Ibu Sarah tersenyum. Namun matanya tak melepaskan pandangan dariku. Ia menatapku dari ujung rambut hingga kaki. Aku merasa sangat percaya diri dengan rambut man bun undercut-ku yang sangat catchy dan kekinian di kalangan pria. Bagian atas rambut kucepol sangat rapi dan cepak tipis di sisi kiri dan kanan. Badan berisiku dibalut oblong hitam bertuliskan outSIDer dengan kemeja flanel motif kotak-kotak biru hitam. Ditambah celana jeans belel lengkap dengan robekan di kedua lutut. Aku merasa pantas berdampingan dengan Sarah yang kini sudah duduk di sisi kiriku.

“Silakan diminum kopinya, Nak,”

“Terima kasih, Bu.”

Aku langsung menyeruput kopi panas itu perlahan.

“Ibu tadi baru saja menyelesaikan Sholat Dhuha. Sholat sunnah yang cukup rutin Ibu tunaikan. Dalam sholat, Ibu tidak pernah luput mendoakan Sarah agar menjadi pribadi yg baik dan taat kepada agamanya. Ibu ingin suatu saat nanti Sarah mendapat jodoh dan dipertemukan pria yang baik dan sholih agar dapat selalu membimbing Sarah bahkan setelah Ibu pergi.”

“Uhuk uhuk.”

Aku tersedak mendengar bagian akhir kalimat Ibu Sarah.

Jodoh? Pria baik dan sholih? Siapa? batinku.

Sarah langsung bergeser sedikit menjauh. Bahkan senyumnya menghilang berganti air muka mendung berawan hitam pekat. Aku hanya terdiam sembari meletakkan cangkir kopi yang bercampur batukku.

“Nak…”

“Jaya, Bu.” sahutku menuntaskan ingatannya akan namaku.

“Sarah sudah sedikit bercerita tentangmu dan keluargamu.” sambungnya sambil menghela nafas panjang seperti mengeluarkan semua beban hidup yang selama ini dipikulnya sendiri.

“Sarah adalah satu-satunya putri Ibu. Selama hidupnya, ia bahkan tak pernah melihat Ayahnya. Yang sangat Ibu sesalkan karena Ibu terlalu larut dalam duka-duka Ibu dan menyebabkan Sarah bukan hanya tidak beroleh kasih sayang seorang Ayah namun juga kehilangan hari-hari bahagia bersama seorang Ibu. Setelah akhirnya Ibu menyadari bahwa semua adalah kehendak Tuhan sebagai sebaik-baik pencipta dan pengatur kehidupan.”

Kutatap wajah Ibu Sarah. Paras cantiknya serupa dengan rembulan di wajah Sarah. Hanya ditutupi beberapa keriput tanda usianya yang tidak lagi muda. Mukena putih berenda masih menutupi sebagian tubuhnya membuat aura kecantikannya semakin terpancar. Alisnya bersambung seperti tidak pernah dicukur layaknya wanita masa kini. Bulu matanya pendek dengan lesung pipi hanya di bagian kiri. Matanya tertunduk namun terlihat kuat, seperti mengingat-ingat masa lalunya yang sulit dan harus dihadapi sendiri. Bahkan hingga kini, Sarah menginjak usia 20 tahun, ibunya tetap menjanda.

“Harus Ibu akui, kehilangan orang yang kita sayangi atau bahkan tidak memperoleh kasih sayang dari orang terdekat kita adalah mimpi buruk. Tapi hal itu tidak lantas menjadikan kita berhak menyalahkan keadaan dan membenarkan setiap perilaku buruk kita. Bukan Tuhan penyebabnya, melainkan diri kita sendiri. Tuhan memiliki rencana yang selalu baik bagi kita. Mungkin ini cara Tuhan menjauhkan kita dari orang-orang yang jauh dari Tuhan, dan memaksa kita mencari cara untuk mendekat padaNya. Begitu pula Tuhanmu ya kan nak?” curahan hatinya ditutup dengan pertanyaan retoris yang seketika membungkam tidak hanya mulutku namun logikaku.

Selama ini aku tidak pernah berpikir tentang bagaimana Tuhan mengatur kehidupanku. Aku hanya melihat apa yang terlihat olehku. Orang tua yang mengabaikanku. Saudara yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Dan guru-guru di sekolah yang selalu memandangku sebelah mata. Aku tak pernah menerima pertanyaan semacam ini. Selama ini kujalani ibadahku sebagai rutinitas harian tanpa pertanyaan. Tanpa mencari-cari siapa itu Tuhan.

“Carilah kebenaran dalam hatimu, nak. Hati nurani adalah tempat terbaik untuk berkawan. Bersihkan ia, maka seluruh bagian dari dirimu akan bersih. Akan kau temukan kebenaran dan iman untuk menghadapi hari-hari yang kau anggap sulit, padahal mudah kau jalani jika kau mau menamahami.”

Jantungku berdegup. Air mataku meleleh. Kakiku lemas. Sarah memegangi tanganku yang setengah gemetar. Kurasakan tangannya juga gemetar.

“Sarah, wanita diciptakan begitu mulia oleh Allah subhanawataala. Mungkin dengan kelemahan fisik namun kekuatan nurani dan jiwa. Kamu harus menemukannya dalam dirimu. Jangan jadikan masa lalu kita yang buruk sebagai pondasi keburukan masa depan kita, melainkan sebaliknya. Mari kita mulai kebaikan-kebaikan berikutnya bersama Ibu, Nak.”

Sarah melepas genggaman tangannya dariku. Ku dengar suaranya terisak. Pun begitu dengan ibunya. Dalam air mata, kulihat keduanya berpelukan erat.

“Maafkan ibu, Nak. Ibu belum bisa menjadi Ibu yang baik untukmu. Mari kita sama-sama belajar menjalankan kewajiban kita kepada Allah. Mensyukuri segala nikmat dan karuniaNya di hari-hari kita. Dan menjadi hamba yang lurus dan setia.”

Permohonan maaf yang mungkin selama ini dinanti-nantikan oleh Sarah, setelah sikap Ibunya yang selalu apatis terhadap hari-hari seorang Sarah. Tak jauh beda denganku. Aku pun menanti permohonan maaf itu dari keluargaku. Namun aku tak berharap memperolehnya. Aku berbahagia dengan pemandangan ini dan berharap kasih sayang antara keduanya menjadi lebih erat.

Tak lama Ibu Sarah menghampiri dan memelukku.

“Terima kasih telah menjaga dan menyayangi Sarah selama ini. Namun ibu masih memiliki permintaan. Bantu Sarah memperbaiki dirinya untuk dapat kembali ke jalan Islam.”

Entah apa yang membuat dadaku semakin bergemuruh dan air mataku semakin mengalir. Aku menjawab permintaan ibunya dengan anggukan. Hingga akhirnya kami bertiga saling berpelukan. Berharap dapat membuang masa lalu kami bersama air mata dan memulai kehidupan baru kami dengan senyuman dan iman. Hari ini. Detik ini.

***

Tibalah hari ini. Hari yang sangat kami nantikan. Matahari bersinar terang namun teduh di langit Jimbaran. Di sebuah musholla kecil tak jauh dari rumah Sarah, aku duduk bersimpuh menghadap sebuah meja kecil di tengah-tengah ruangan. Dikelilingi beberapa tamu yang juga jamaah musholla tersebut. Tentu tak luput dari pandanganku Sarah dan Ibunya yang duduk bersebelahan. Keduanya memakai gamis berwarna peach muda berhias brukat bunga dan jilbab senada. Keduanya menghias wajah dengan senyuman menambah aura kecantikan mereka masing-masing.

Seorang ustadz berada di seberangku dan mulai membuka acara dengan membaca beberapa ayat suci Al-Quran, doa, dan penjelasan-penjelasan terkait kesungguhan dan komitmenku dengan keputusan ini.

“Baik, Bismillahirrohmanirrohim,” sambungnya lagi, kini menggetarkan seluruh tubuhku. Air mataku tertahan di pelupuk.

“Asyhadu anla ilaaha illallah, waasyhadu anna muhammadarrasulullah. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” aku menuntaskan bacaan syahadat mengikuti bacaan ustadz.

“Alhamdulillahirobbil’alamin,” terdengar dari beberapa orang yang hadir dan dilanjutkan dengan doa-doa untukku. Air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku sangat bersyukur, Ibu Sarah telah membimbingku selama beberapa bulan terakhir. Membuka jalan hidayah tidak hanya untuk Sarah namun juga untukku.

Awalnya kami lari dari takdir Allah dan mencari kedamaian melalui kepuasan duniawi memenuhi nafsu sesat kami. Padahal semua itu malah menambah rumit permasalahan dalam hari-hari kami. Dan kini kami  telah menemukan islam sebagai dasar keimanan dan menemukan Allah sebagai sandaran kehidupan.

Usai semua prosesi, Sarah dan Ibunya mendekatiku, mengucap selamat, lalu memelukku bergantian. Sarah memperbaiki jilbabku yang sedikit miring sembari mengulang-ulang senyum dan menyisipkan pujian “cantik” untukku. Kurasakan pipiku memanas wajahku memerah. Ibunya memberikan sebuah kotak berisi hadiah berupa mukena putih bersih untukku menunaikan kewajiban islamku mulaiĀ  hari ini, seterusnya, dan selama-lamanya. Bukan lagi sebagai Ketut Jayanti namun sebagai Humairah. Hamba Allah yang hari ini bahagianya paling membuncah hingga rona pipinya semakin memerah.

Oleh : Ersa Fitria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *