Resensi Buku ; Membimbing Remaja dengan Cinta

Judul   : Membimbing Remaja dengan Cinta

Penulis : Irawati Istadi      

Penerbit : Pro-U Media

Klasifikasi : Parenting

Tebal Buku : 368 Halaman

Cetakan : Cetakan I, 2016

Harga : Rp 55.000

Buku ini sudah cukup lama berada dalam koleksi buku saya. Baru mulai saya baca dikarenakan ketiga buah hati sudah mulai beranjak remaja. Setelah membaca buku karya Irawati Istadi, penulis buku best seller “Mendidik dengan Cinta”, banyak ilmu yang diperoleh dalam menghadapi dunia remaja. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi poin penting dari buku ini. Semoga catatan singkat kali ini bisa menjadi acuan bagi orang tua yang sedang menghadapi permasalahan remaja.

Mengutip perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Didiklah Anakmu sesuai zamannya karena Dia hidup Bukan di zamanmu.” Sebagai orang tua harus banyak belajar. Salah satu caranya banyak membaca buku panduan menjadi orang tua. Selamat membaca!

***

Membimbing Remaja dengan Cinta karena remaja hari ini adalah pemimpin di masa depan. Remaja memainkan peran yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat. Merekalah calon penerus yang akan menerima tongkat estafet perjuangan ini, mewarisi posisi para pemimpin negara, para ulama, tokoh pemikir, penggerak, bahkan penentu arah ke manakah bangsa ini akan dibangun.

Pada pengantar buku ini dikatakan bahwa remaja yang gagal membangun karya dan memanfaatkan waktu pada masa remajanya dengan positif akan mengalami kesulitan besar untuk bisa membangun kesuksesan hidupnya.

Masa remaja adalah masa produktif yang sangat menentukan. Karena itu, harus dibimbing, diarahkan dan diselamatkan dari hal-hal yang bisa merusaknya.

Buku ini terdiri dari delapan bagian yang memberi panduan secara bertahap bagi orang tua dalam membimbing buah hatinya yang sudah mulai remaja. Disertai contoh konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga memudahkan orang tua untuk mempraktikkannya.

***

Bagian pertama buku ini membahas tentang “Remaja Dulu, Remaja Sekarang”. Penulis menggambarkan bagaimana sikap dan adab para remaja saat ini dibandingkan remaja terdahulu.

Sebagai orang tua kita belajar memahami keinginan remaja dengan berusaha mengakomodasi untuk disetarakan dengan orang dewasa. Remaja menuntut orangtuanya tidak hanya bisa menyuruh atau membuat satu aturan, tetapi ikut menjalankan dan meneladaninya.

 Zaman yang semakin canggih memberikan kita banyak kemudahan. Tak perlu lagi kerja keras yang penting ada uang. Akibatnya, remaja terdidik dengan gaya hidup instan. Tidak biasa menunggu, tidak pula berusaha.

Untuk menghindari hal ini remaja harus banyak dididik untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Belum lagi gaya hidup cyber yang bila tidak bisa memanfaatkannya maka remaja akan diperbudak gadget atau gawai. Serta kebiasaan remaja curhat di dunia maya tanpa memedulikan etika.

***

Pada bagian kedua, penulis mengupas “Komunikasi dan Dialog Efektif”. Sebesar apa pun masalahnya, Insya Allah bisa diselesaikan jika ada komunikasi. Sekecil apa pun masalah, bisa melesak jika tidak ada komunikasi. Jika dialog dengan remaja tidak membuahkan hasil negoisasi seperti yang diharapkan, beri kesempatan kepada mereka untuk mempraktikkan argumennya sambil diberi batasan-batasan secukupnya oleh orang tua.

Dengan membangun dialog dan membuat kesepakatan di awal akan membuat remaja bisa lebih mudah dan bijak setelahnya. Walaupun mungkin masih ada pelanggaran, tetapi masih terbuka peluang utuk meluruskannya dengan lebih mudah.

Ketika remaja mau menaati aturan karena ia benar-benar paham alasannya, maka dia akan memiliki prinsip yang kokoh dan tak tergoyahkan oleh godaan-godaan dari orang lain. Maka carilah waktu dan cara yang tepat untuk bicara.

Di bagian kedua juga diberikan trik untuk mendekati remaja yang tertutup seperti: mengadakan pedekatan melalui hobinya, tokoh idolanya, mencatat hal yang menarik perhatiannya dan mengenali teman-temannya. Jangan lupa untuk memberikan kepercayaan kepada remaja. Jika kita belum bisa percaya dengan apa yang mereka janjikan setidaknya kita bias menyampaikan “Bahasa Kepercayaan” kepada mereka disertai dengan batasan-batasan yang diperlukan.

***

Bagian ketiga ialah tentang “Membangun Konsep Diri”. Orang tua mendapat panduan bagaimana membangun citra diri yang lurus kepada remaja. Lebih waspada terhadap dunia hiburan yang menghipnotis remaja. Remaja sudah mulai peduli dengan penampilannya dan sensitif terhadap berat badannya, dan diet berlebihan dapat merusak citra diri remaja. Mereka cenderung lebih mementingkan penampilan dibandingkan kualitas kepribadian yang mengakibatkan kurang rasa percaya diri. Hal ini dapat mengakibatkan kecanduan game dan pornografi sebagai pelarian para remaja. Maka orang tua perlu berhati-hati dalam mengenalkan idola bagi putra-putrinya.

***

Bagian keempat yaitu “Menciptakan Lingkungan yang Baik”. Remaja lebih memercayai temannya. Maka  jika teman salah, orang tua kalah. Lalu bagaimana bila remaja memiliki teman yang buruk; ditoleransi atau diputuskan? Pertimbangan dalam menentukan sikap bisa kita berikan berdasarkan besarnya pengaruh yang diberikan, apakah besar, sedang, atau kecil. Orang tua juga bisa memilihkan lingkungan yang lebih baik. Seperti sekolah maupun tempat tinggal.

Cara kerja otak adalah membentuk kepribadian seseorang sesuai dengan informasi yang masuk ke dalam otak. Maka orang tua perlu mewaspadai apa saja yang dilihat dan didengar oleh para remajanya. Sering mengajak mereka diskusi akan membuat remaja semakin cerdas dalam menyelesaikan masalah.

***

 Bagian kelima: “Mengarahkan Dunia Seksualitas”. Ini adalah salah satu bab yang penting di usia remaja. Namun terkadang orang tua malu untuk membahas hal ini. Remaja sudah mulai memiliki lonjakan gairah seksual dan sebagai orang tua harus belajar menyikapinya. Produksi hormon seksual mereka sudah mulai aktif yang mengakibatkan sudah mulai ada gairah dan tertarik dengan lawan jenis. Belum lagi dengan derasnya informasi yang mereka dapatkan melalui sinetron di televisi, sosial media dan aplikasi yang lainnya. Membuat para remaja ingin mencoba yang namanya “pacaran”.

Untuk menghadapi hal tersebut orang tua harus menyampaikan batasan-batasan seorang pria menyukai remaja perempuan, begitu pula sebaliknya. Tentunya disesuaikan dengan ajaran agama yang kita anut. Dalam agama Islam tidak mengenal istilah “pacaran”. Jadi sama sekali tidak benar jika pacaran dikategorikan sebagai sebuah aktivitas yang bermanfaat karena dianggap bisa menjadi ajang saling mengenal dan memahami. Yang benar adalah keharmonisan bisa tercapai jika kedua belah pihak mau menerima, memahami, dan menyesuaikan diri.

Pendidikan seksual perlu dikenalkan sejak dini. Bisa kita mulai dengan mengenalkan nama dan fungsi organ tubuh dari masing-masing jenis kelamin. Mengenalkan peran dan fungsi sosial sesuai jenis kelamin. Serta menumbuhkan kesadaran anak untuk menjaga bagian vital dalam tubuhnya.

Setiap jenis kelamin memiliki daya tarik seksualnya sendiri, dan ini harus orang tua arahkan.  Daya tarik seksual ini diyakini oleh sebagian besar remaja sebagai jalan pintas untuk menjadi pusat perhatian, memenuhi kebutuhan untuk diperhatikan. Hingga mereka mau melakukan apa saja demi datangnya pujian dan decak kagum dari orang lain. Maka orang tua harus selalu ingat bahwa penanaman nilai lebih penting dibanding aturan saja. Tidak ada jalan yang lebih efektif selain dari dialog dan keteladanan.

***

Kemudian bagian keenam membahas tentang “Kecerdasan Spriritual Remaja”. Dalam menumbuhkan kecerdasan spiritual tidak cukup hanya melalui penyampaian teori, nasihat, dan pembiasaan saja. Dibutuhkan kunci-kunci khusus untuk itu, antara lain: melalui kegiatan insidental yang kreatif, menarik, dan istimewa, memanfaatkan multimedia secara optimal, dan melibatkan emosi remaja. Memanfaatkan multimedia untuk menanamkan nilai-nilai spiritual sangat tepat karena sesuai dengan jiwa remaja saat ini.

Remaja memang berada di usia tanggung yang sulit dihadapi. Dalam usianya ini, mereka tidak mau dianggap seperti anak kecil, inginnya dianggap seperti orang dewasa. Padahal kenyataannya, pikiran mereka tetap belum sepenuhnya dewasa. Namun yang pasti, jika remaja merasa tersinggung karena merasa dianggap seperti anak kecil, maka informasi, pesan, serta nasihat akan sulit ia terima.

Penanaman nilai positif bisa orang tua lakukan melalui kisah inspiratif karena tidak terkesan menggurui. Pengalaman positif yang mereka dapatkan juga bisa kita kaitkan dengan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan. Seperti saat mereka mengunjungi panti asuhan, banyak yang bisa kita gali untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual mereka.

***

Selanjutnya bagian ketujuh: “Menumbuhkan Passion”. Dalam bab ini orang tua diberi gambaran bagaimana cara membangun passion remaja melalui dialog sejak kecil, pembiasaan dan melibatkan remaja secara emosional. Salah satunya adalah menumbuhkan harapan yang sesuai dengan minat dan karakter remaja.

Jika remaja terobsesi terhadap suatu harapan, maka itu akan memacu dirinya untuk membangun manajemen diri yang baik. Setelah memiliki harapan segera action. Tanamkan kepada mereka untuk menjadi diri sendiri. Rencanakan karya sendiri, tidak perlu bergantung kepada peluang yang disediakan orang lain.

Remaja bisa menjadi master perubahan di masyarakat. Karena potensi yang dimiliki remaja dan juga energinya yang luar biasa. Namun kita juga perlu berhati-hati dengan emosi para remaja yang belum stabil. Contoh konkrit yang sering kita lihat adalah tawuran yang seolah sudah menjadi tren di kalangan remaja.

Peristiwa tawuran pelajar antar sekolah memiliki akar penyebab yang begitu rumit. Kita harus memahami akar penyebabnya terlebih dahulu, seperti: pemahaman harga diri yang salah; sistem pertemanan yang solid; kurang cerdas spiritual, pola pikir remaja yang heroik; kekosongan figur guru atau orang tua; kurangnya penyaluran aktivitas fisik; hingga citra negative dari masyarakat. Dengan mengetahui akar penyebab kita akan lebih mudah mencabutnya tentunya dengan konsep pendekatan yang bersahabat dan menghargai mereka.

***

Bagian terakhir kita disuguhkan tentang “Musuh Remaja”. Kita belajar hal apa saja yang menjadi kesenangan mereka ternyata merupakan musuh mereka tanpa disadari. Bagaimana mereka mendahulukan kesenangan seperti olahraga yang sering mereka dahulukan dibandingkan ibadah wajib seperti sholat. Belum lagi kesenangan remaja terhadap idola, musik, bacaan dan hal lain yang menyenangkan.

Orang tua harus mengetahui kesenangan remaja agar bisa membimbing dan mengarahkan mereka. Para remaja perlu dibantu untuk bisa melepaskan diri dari serangan musuh yang bertubi-tubi, sehingga mereka menjadi pribadi yang terkendali.

***

Dari buku ini, sebagai orang tua kita banyak mendapatkan pelajaran yang berharga dalam membimbing remaja melewati fase kehidupan mereka. Menjadi orang tua tidak ada sekolah formal yang harus kita lalui. Padahal kita harus menyadari bahwa banyak bahaya dahsyat yang harus dihadapi remaja kita.

Karena peran penting remaja dalam membangun peradaban, maka remaja perlu dibimbing, diarahkan dan diselamatkan dari hal-hal yang bisa merusaknya. Semoga kita sebagai orang tua bisa belajar dan mengupayakan solusi untuk meyelamatkan dan membimbing mereka menjadi seorang pemenang dalam kehidupan ini. Sungguh, siapa yang gagal memanfaatkan waktu mudanya, maka akan sulit meraih kesuksesan di masa-masa sesudahnya.

Selamat membaca, bersama kita bimbing remaja dengan penuh cinta, karena remaja hari ini adalah pemimpin masa depan!

Oleh : Dina Samodra

One thought on “Resensi Buku ; Membimbing Remaja dengan Cinta

  • October 2, 2020 at 3:01 pm
    Permalink

    Mantap, tentu buku yg sangat bagus dan penyampaian jga dg gaya bahasa yg sederhana sehingga mudah dipahami,hanya saja saya belum.melihat contoh peristiwa atau pnomena remaja yg dihadirkan dalamnulasan ini. Mantu mantap betuuhhhl

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *