Sayang, Aku Tak Baca Koran

Aku tak pernah ingin seperti mereka. Bapak-bapak yang suka bercengkrama dengan teman sebaya di pos ronda. Atau sekadar nongkrong di warung kopi pinggir jalan, berbicara tentang wanita, uang dan wanita lagi.

Biarlah aku dibilang takut isteri, toh kamu tahu, aku tak pernah takut padamu. Aku cuma cinta, cuma tak ingin menyakitimu, cuma tak ingin menyusahkanmu. Bukannya aku tak suka di luar rumah, aku yakin di luar sana pasti menyenangkan, namun di rumah lebih menenangkan.

Mereka berkata, bahwa mereka adalah punggawa nafkah keluarga. Mereka berkilah bahwa kaummu adalah penjaga rumah, pengasuh anak, mungkin sejenis pembantu rumah tangga. Tapi aku tidak, sebab kamu adalah makhluk Allah paling kucinta.

Apalah yang lebih melelahkan dari mengurus anak yang pantang menyerah memberantakkan seisi rumah. Belum lagi ditambah setumpuk cucian kotor yang aku hasilkan, tak lupa bekas teh dan mi instan yang kuletakkan saja di meja dapur. Bisa saja rumah kita adalah neraka ketika aku pergi, namun seketika menjadi surga yang rapi dan indah ketika aku pulang ke rumah. Sungguh beruntung aku jika engkau tak mengeluh tentang semua kekacauan itu.

Apalah aku dan pekerjaanku ini, seorang lelaki kantoran dengan setumpuk kertas dan sebuah monitor dihadapanku. Di kantorku, tak ada pemandangan buruk, semua indah, rapi tertata. Tak ada bau busuk sampah dan jeritan kakak ketika harus terus mengalah kepada adiknya. Semuanya wangi, diiringi musik-musik berformat mp3, atau mkv-mkv hasil unduhan gratis dari dunia maya.

Mereka, bapak-bapak kantoran itu, terus terang saja sering menggoda pegawai wanita yang masih muda. Itu biasa terjadi setelah pekerjaan mereka telah terselesaikan, atau mungkin baru selesai sebagian. Asal engkau tahu sayang, perempuan kantoran itu wangi dan warna-warni. Indahnya kehidupan bapak-bapak itu selama sembilan jam setiap harinya.

Namun sayang, di rumah isteri mereka tak secantik bidadari-bidadari kantoran. Badannya bau keringat, dengan rambut terikat, daster seadanya. Bapak pun ilfil dibuatnya, “sudah capek-capek di kantor, sampai rumah kok gak ada sambutan istimewa.” Si bapak lupa, bahwa istrinya baru saja menyesaikan pekerjaan nguli-nya di rumah mereka. Si bapak lupa, apa definisi capek sebenarnya. Mungkin arti capek adalah lelah tertawa sebab menggoda perempuan-perempuan muda.

Aku tak ingin seperti mereka, bapak-bapak itu. Dan aku juga tak ingin engkau seperti mereka, ibu-ibu yang bau keringat itu. Sebab engkau harus wangi, rapi dan cantik. Maka kuulurkan tanganku setiap hari di tempat cuci piring kita. Kutuang sabun dan kualirkan air untuk baju-baju kita. Soal mengasuh anak dan memasak, engkaulah ahlinya, maka aku mundur dari urusan itu.

Bukan aku menafikan kekuatanku untuk mengurus semuanya tanpa diriku. Namun aku ini lelaki, kendatipun kurus, namun sifat gagah harusnya tetap tersemat pada diriku. Dengan kekuatan yang kumiliki, seharusnya aku menyelesaikan lebih banyak hal darimu, bukan sebaliknya. Memang, nafkah adalah kehormatan dari jenisku, namun membantumu adalah bentuk cintaku, maka kupilih keduanya.

Pernah aku merasa, bahwa aku adalah satu-satunya dari jenisku. Lelaki gentleman yang mau membantu urusan rumah tangga. Tapi ternyata aku lupa, bahwa aku tak ada seujung kuku dari manusia mulia, Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

Di saat lelah, sering aku berkusut muka, sebab tak ada makanan tersedia, padahal lapar sedang merongrong perutku dengan hebatnya. Tapi ia, Rasulullah, tak pernah bermasam muka di hadapan kekasih hatinya, Aisyah, sekalipun tak ada makanan di rumahnya.  Lelaki mulia itu pasti akan segera menyingsingkan bajunya, menuju dapur membantu istri tercintanya, tanpa protes, tanpa kata-kata pembuka. Aku sungguh ingin seperti beliau, memperlakukan wanitanya dengan penuh cinta.

Dahulu di sekolah, mungkin kita belajar hal yang sama di pelajaran bahasa indonesia. Setelah kupikir-pikir, itu adalah penanaman pola pikir yang salah sejak dini. Beberapa kalimat sederhana berstruktur S,P,dan O

Ibu menanak nasi  

Ayah membaca koran

Kakak menyapu halaman

Adik bermain bola

Dan yakinlah sayang, aku tidak akan membaca koran, sebelum aku selesai membantumu di dapur. Ah, kita kan tidak berlangganan koran!

disadur dari note Facebook Mas Rizki dalam momen Menulis Serentak FLP

One thought on “Sayang, Aku Tak Baca Koran

  • October 11, 2013 at 4:24 pm
    Permalink

    Tulisan yg manis sekali, membuat saya tersenyum yakin dunia tak akan pernah kekurangan laki-laki seperti 'Aku'..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *