Talkshow: Menerbitkan Buku di Era Digital

Perkembangan teknologi mengubah banyak hal termasuk industri penerbitan. Buku yang tadinya berupa kumpulan tulisan yang dicetak di atas kertas lalu dijilid, kini berubah. Tak lagi berbentuk fisik yang berat, buku bisa diunduh di gawai dan dibawa kemana-mana.

Bagaimana perkembangan buku di era digital mempengaruhi penulis? Apa saja tantangan yang dihadapi saat menerbitkan buku secara digital? Bagaimana solusinya? Semua itu dikupas dalam  talkshow “Menerbitkan Buku di Era Digital” yang diadakan secara daring oleh Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Bali pada hari Minggu, 11 Oktober 2020 lalu. Acara bincang-bincang ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Rinjani Magenta, penulis sekaligus pimpinan redaksi penerbitan AT Press, serta Fatkur Rohman, CEO Benlaris Digital Marketing.

Ada banyak platform yang menyediakan buku digital, sebut saja Storial dot co, Cabaca, Wattpad, Webnovel, Kwikku, dan banyak aplikasi lainnya. Setiap wahana memiliki karakter dan kelebihannya tersendiri. Ada yang harus melalui tangan editor terlebih dahulu sebelum bisa diterbitkan, ada juga yang bisa mengunggahnya langsung. Ada yang gratis, ada pula yang menerapkan sistem bagi hasil jika karya mereka dibeli pembaca.

Penulis tak boleh menutup mata atas perkembangan ini. Sikap gagap teknologi membatasi gerak penulis dalam memasarkan tulisannya. Namun selain masalah teknis, ada beberapa tantangan yang dihadapi penulis di era digital ini.

Tantangan pertama dalam industri buku digital adalah memilih media yang tepat. Tepat di sini berarti sesuai dengan yang dibutuhkan oleh penulis. Rinjani menekankan pentingnya penulis untuk mengetahui karakternya dan karakter tulisannya. Langkah  selanjutnya adalah  tahu karakter dari masing-masing aplikasi penerbitan buku digital. Penerbit mana yang paling sesuai dengan karakter tulisannya, di situlah ia bisa menerbitkan karyanya. Misalnya, jika penulis ingin menerbitkan karyanya secara berkala, pilihlah peranti yang memungkinkan penulis mengunggah tulisannya per bab setiap minggu.  

Sementara itu menurut Fatkur Rohman, penulis wajib tahu target pasarnya. Segmen apa yang ingin disasar oleh penulis? Wanita atau pria?  Berapa rentang usia pembaca? Bagaimana gaya hidup mereka? Setelah tahu ceruk pasar yang dituju, penulis hanya perlu memilih perangkat yang sesuai dengan tujuan tersebut.

Selain itu, kedua pembicara sepakat pentingnya penulis mengetahui selfbranding, yaitu kemampuan seseorang dalam menciptakan persepsi publik atas siapa diri mereka. Untuk itu, Fatkur mengajak penulis untuk bertanya ke diri sendiri tentang tujuan awal mereka menulis, bagaimana mereka ingin dikenal publik melalui tulisannya, dan konsisten dalam bentuk tulisan yang mereka pilih.

Sementara, Rinjani memberi tips untuk membagi karya pada orang-orang terdekat. Tujuannya untuk mendapatkan umpan balik serta evaluasi apakah reaksi pembaca sudah seperti yang diharapkan atau belum. Setelah penulis memiliki self branding, ia akan mampu memilih peranti yang dianggap mampu mewujudkan persepsi itu.

Tantangan kedua adalah menarik minat pembaca untuk memilih karya penulis. Setelah mengenal diri dan tulisan, target pasar, persepsi publik yang ingin diciptakan, lalu memilih platform yang sesuai, langkah selanjutnya adalah mempromosikan karya. Rinjani menyarankan penulis untuk tidak bergantung hanya pada penerbit untuk memasarkan bukunya. Alasannya adalah penerbit tak hanya menjual satu dua judul, melainkan ada banyak buku lain yang mereka pasarkan.

Penulis diharapkan aktif dalam mempromosikan karya mereka. Tak harus melalui media promosi berbayar, penulis bisa menggunakan sosial media yang mereka miliki. Bukan hanya memosting judul dan sinopsis saja, melainkan penggalan kalimat dan dialog yang menggugah dari buku tersebut. Fatkur mengamini hal ini dan menambahkan jika pembeli di Indonesia sebagian besar merupakan emotional buyer, yaitu pembeli yang akan membeli suatu barang jika tergugah emosinya. Ia menyarankan penulis untuk mencuplik adegan maupun dialog yang mampu membuat calon pembaca potensial baper.

Tantangan ketiga adalah pembajakan. Tak hanya buku fisik saja yang mengalami tantangan ini, namun karya cipta digital pun menghadapinya. Untuk itu, Fatkur menawarkan solusi untuk mebuat karya yang dimuat di blog menjadi tidak bisa disalin dan ditempel ulang. Ia juga menegaskan jika Google sudah memiliki peranti keamanan yang memblokir situs yang memuat tulisan copy-paste dari situs lain. Sementara itu, Rinjani menyebutkan pada umumnya penerbit akan mendaftarkan hak karya cipta atas buku yang mereka terbitkan, termasuk yang diterbitkan secara digital. Namun ia tak menyalahkan penulis untuk bertanya pada penerbit agar lebih yakin.

Pada akhirnya, apapun tantangan yang dihadapi, media apapun yang dipilih, tak sebesar tantangan menulis itu sendiri. Apalah artinya ada calon pembaca jika tak ada tulisan yang dibaca. Di akhir acara, Rinjani Magenta mengatakan, “Tugas penulis hanya dua, yaitu menulis dan menyelesaikan tulisannya.” Jadi, sudah berapa kata ‘tamat’ kita torehkan di karya kita?

Ditulis oleh Mirna Rizka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *