Taman Bunga

Ia tidak suka karangan bunga. Apalagi bunga imitasi. Buatnya, semua itu menggambarkan kepalsuan, sesuatu yang fana. Karena itu, ia membuatkan taman bunga untuk istri tercintanya. Bunga-bunga yang tumbuh di sana mekar silih-berganti, tak henti-henti seperti cintanya pada sang pujaan hati yang tak kunjung padam.


Saat melihat mawar merah yang mekar, ia membayangkan bibir istrinya yang bergincu. Saat melihat bunga matahari, ia menyamakannya dengan senyum wanita itu yang secerah pagi. Sambil menyiangi taman bunga itu setiap hari, ia berharap sang istri dapat mengetahui isi hatinya.


Tapi, istrinya adalah salah satu dari bunga imitasi. Seperti itu jualah cintanya pada sang suami. Cintanya palsu. Ia menikahi sang lelaki karena hartanya. Lelaki itu tahu. Meski begitu, buatnya, ia tetap bunga yang teristimewa.


Suatu hari saat pulang dari luar kota lebih cepat sehari sebelumnya, ia mendapati istrinya bersama pria lain di ranjang mereka. Si pria buru-buru memakai pakaian, sementara istrinya memakinya yang pulang lebih cepat tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


Semenjak itu pertengkaran demi pertengkaran dimulai. Meski hanya si wanita saja yang berteriak, sementara ia hanya diam. Pun saat perempuan itu meminta jatuhnya talak, ia tetap tak bergeming. Wanita itu akhirnya pergi. Diam-diam, bersama sang pria pujaan.


Suatu tengah malam pintunya diketuk. Di tengah hujan deras dan guntur, ia kembali. Di belakangnya berdiri seorang bertubuh kekar. Ia mengenalinya sebagai sang selingkuhan. Mereka kembali untuk memaksanya menandatangani surat cerai beserta penyerahan gono-gini yang besar. Dengan otot-otot yang bertonjolan, si pria memaksanya untuk menyetujui surat tak masuk akal itu.


Ia meminta ijin untuk ke dapur untuk menyeduh teh, minuman kesukaannya dan istrinya. Sang istri tak menolak karena daun teh yang ia seduh tak biasa. Langsung diimpor dari Inggris. Teh kesukaan Sang Ratu sendiri, kabarnya.


Di dapur, ia menyeduh teh lalu mencampurnya dengan bubuk arsenik yang ia selipkan di kabinet. Tadinya, hendak ia pakai untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Mengakhiri penderitaan hatinya yang telah patah. Namun kini ia berubah pikiran.


Sang lelaki menatap taman bunga di belakang rumahnya. Mawar merah yang tumbuh di sana tampak layu. Semalam ia mencabutnya tergesa lalu menanamnya kembali. Tanah di taman itu terlihat gembur dan basah.

Moirnerz, 10 Februari 2021

6 thoughts on “Taman Bunga

  • February 10, 2021 at 7:13 am
    Permalink

    Bagus bgt mbak. Kalau ada dialog sebenarnya jg bagus. Jd pembaca lbh bisa mendalami perasaan karakter. Tp gini aja jg udh bagus bgt. Semangat trus manteman FLP Bali.

    Reply
    • February 14, 2021 at 1:21 am
      Permalink

      CerMin memang memangkas dialog, Mba,
      Next penulisnya (Mba Mirna) akan paparkan langsung ya kenapa tak ada dialog hanya narasi dan deskripsi. Makasih Mba Kiki

      Reply
  • February 10, 2021 at 7:55 am
    Permalink

    Terima kasih sudah memposting tulisan saya, FLP Bali~
    CerMin ini adalah tantangan buat saya untuk membuat sebuah cerita kurang dari 500 kata. Alhamdulillah bisa, karena “Taman Bunga” berhasil diselesaikan bahkan kurang dari 350 kata.

    IG: @moirnerz

    Reply
    • February 14, 2021 at 1:21 am
      Permalink

      Semangat terus dalam berkarya, Mba. FLP Bali menanti cerita-cerita lainnya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *