Teras Mimpi Bapak


Bermimpilah Dalam Hidup, Jangan Hidup Dalam Mimpi
( Adrea Hirata )


Mungkin itu adalah kata – kata mutiara yang tepat buat aku yang terlahir di ibukota Jakarta. Kota yang menurut sebagian orang dapat memberikan impian – impian besar seorang anak manusia, dari yang bukan siapa – siapa menjadi orang besar dan hebat.


Bapakku seorang pegawai negeri sipil yang harus menghidupi empat anak – anaknya. Sementara ibuku seorang ibu rumah tangga. Tidaklah mudah untuk bisa menikmati yang namanya kemewahan. Tetapi bapakku punya impian besar terhadapku.
“Sebagai kakak tertua, kamu harus menunjukan dirimu teladan buat ketiga adikmu.” Ujar Bapakku. Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Maunya menangis, merajuk dan marah. Aku lho masih ingin main – main dan tidak terbebani dengan keinginan bapak. Siapa pula yang mau adik sebanyak itu. Tapi apa daya, aku hanya seorang anak yang belum punya pikiran untuk minggat atau pergi.
Bahkan di tingkat sekolah dasar pun, aku bukan anak yang berprestasi. Predikat terjelek yang pernah lekat saat itu, ketika aku masih usia pra sekolah didapat dari seorang dokter muda. Dokter itu mengatakan bahwa aku anak bodoh. Menurut diagnosanya karena aku sering kejang dan panas tinggi. Sendok yang aku gigit bisa bengkok seketika kalau aku kejang. Karena seringnya aku masuk rumah sakit dan dokter itu pula yang menanganiku. Kesimpulannya mungkin membuat kedua orang tuaku khawatir.


Ketika hendak melanjutkan sekolah tingkat pertama, aku pikir akan dapat sekolah negeri. Seperti kebanyakan teman – teman, kalau bisa masuk negeri pasti anak hebat dan bergengsi. Tetapi aku tidak mendapatkan itu, bahkan dengan hasil nilai akhirku hanya cadangan di tingkat sekolah pilihan ketiga. Sementara aku perhatikan bapak sangat pusing dan mencari info sana sini agar bisa dapatkan sekolah negeri, sedangkan aku hanya pasrah saja.
“Bapak tidak punya uang lebih, Nak. Untuk yang mau ke negeri apalagi cuma cadangan harus berebutan dengan yang punya duit banyak.” Demikian bapak berkata kepadaku.


Aku tahu pasti bapak menyesal telah memiliki anak seperti aku. Ibuku sedih dan berharap bapak mencari tambahan selain gaji agar anak – anak bisa bersekolah.
Akhirnya keputusan diambil, bapak menyekolahkan aku di sekolah swasta, SMP PGRI. Aku senang bisa sekolah dan aku yakin aku bisa berkompetisi dengan anak – anak orang kaya di sekolah itu. “Bapak berharap kamu sekolah yang benar ya, Nak. Jangan banyak mainnya.” Kata Bapak ketika mengantarkan pertama kali ke sekolah swasta itu.
Selama di sekolah tingkat pertama, bapak selalu mengawal semua materi pembelajaran. Bahkan bapak membeli satu set televisi untuk kami dirumah. Kata bapak, TV-nya buat belajar saja, tidak boleh nonton lainnya.


“Bapakmu ini gimana, lha listrik saja masih numpang ke tetangga, kok nambah lagi ada TV?” ujar Ibu dengan kesal. Aku dan ketiga adikku senang sekali bisa punya televisi, jadi tidak harus menumpang ke rumah orang sekadar menonton film kartun. Biasanya kami sore – sore sudah mandi dan wangi, lalu bersiap ke rumah tetangga untuk nonton TV.
Listrik di tempatku memang masih jarang dan bapak waktu menempati rumah kami itu terlambat daftar ke PLN sehingga harus menunggu lama untuk bisa pasang meteran secara masal, tidak bisa satu – satu. Untung saja masih ada tetangga yang baik hati mau berbagi listriknya. Tetapi susahnya kami, kalau sudah sore hingga magrib, sang tetangga lupa menyalakan listrik di rumah. Adik kecilku langsung berlari dan mengingatkan untuk dinyalakan. Oh, nasib.


Tetapi itu masa yang tidak terlupakan, pernah dalam temaram lilin di rumah, karena malu selalu mengingatkan sang tetangga. Kami berbincang untuk saling bermimpi. Adik perempuanku berharap bisa masuk SMK keuangan, biar bisa kerja jadi akuntan, punya uang banyak. Sementara dua adik laki – lakiku mau ikutan bapak saja jadi pegawai negeri. “Walah, pemalas semua,” ucapku.
“Lha, memang mbak mau mimpi jadi apa?” tanya adik perempuanku.
“Hem, cepat nikah dengan lelaki kaya, bisa belanja, jalan – jalan ke luar negeri, makan enak, tinggal di rumah besar dan terang, tidak seperti rumah kita yang gelap ini.” Ucapku
“Wuih… kok enak ya. Di mana dapatkan laki – laki kayak gitu ya?” ujar adek perempuanku.
Sebelum aku menjawab lebih lanjut, bapakku menyahut, “ Bisa juga begitu. Tapi, kalau kamu bodoh, mana ada laki – laki kaya yang mau sama kamu?”


Bapakku bercerita tentang banyak hal dan adik– adik kecilku tertidur tanpa sadar. Hanya aku yang setia mendengarkan. “Kamu sebagai kakak harus hati – hati bicara dengan adikmu. Jangan memberikan mimpi palsu yang sifatnya instan. Itu mimpimu yang bapak dengar, impian orang putus asa.”
Pembicaraan itu masih terngiang di telinga. Bapak bahkan dengan segala upaya membentuk aku untuk banyak membaca. Pulang dari kantor, bapak selalu membawakan koran sore atau koran pagi yang tidak dibaca oleh atasannya.
“Ini nih, impian hebat. Bisa mengenal semua negara- negara di dunia dan kamu mengunjunginya satu per satu. Pelajari sejarah negaramu secara rinci dan kamu bisa bercerita lalu membandingkannya.” Ujar bapakku sambil menunjukan tajuk berita Dunia Internasional, di salah satu koran yang dibawanya pada hari itu.
Sebenarnya aku malas untuk membaca, tetapi demi menyenangkan hatinya, aku membacanya. Tetapi ternyata lambat laun aku mulai menikmatinya. Bahkan aku mulai mempelajari geografi negara – negara di dunia. Aku mulai menyukai istilah – istilah asing dan menanyakan langsung pada guru bahasa Inggrisku.


Suatu ketika aku menangis sedih meminta ibuku belikan radio. Ibu marah besar dengan caraku meminta. “Tolong Ibu nak, ibu ini udah irit – irit agar kita bisa makan dan kenyang. Kamu malah minta radio segala. Tidak ada!”
Aku merajuk dan pergi ke rumah salah satu temanku yang punya radio. Namanya Nurseha, dia anak tunggal yang selalu dipenuhi kebutuhannya oleh orang tua. Di sana aku mengerjakan PR dari guru bahasa Inggris untuk mendengarkan sebuah lagu barat dan menyalin artinya. Nurseha bahkan 100 persen menyalin tugasku.
Bapakku bingung sampai akhirnya berhasil menemukan aku di rumah Nurseha. Hampir semua rumah temanku sekelas didatanginya. Aku jadi merasa bersalah. Pasti bapak capek dan memarahiku. Tetapi tidak. Justru bapak berkata, “Kadang untuk bisa mendapatkan sesuatu itu harus perlahan, hari ini minta, hari ini harus ada. Bukan begitu caranya.”
“Lihat ibumu belum menyentuh makanannya sampai malam ini. Karena memikirkan kepergianmu.” Lanjutnya.
Itu salah satu peristiwa tidak menyenangkan sama sekali. Aku berjanji tidak akan melakukan hal tersebut. Tapi apa solusinya?


Dengan gaya diplomasinya yang luar biasa, beliau bertemu dengan guru bahasa Inggrisku untuk keringanan PR-nya, dan minta diberikan PR lain saja tanpa harus dengan menggunakan radio. Walhasil, ternyata ayah guru bahasa Inggrisku ini mengenal baik bapakku. Ayahnya sudah pensiun dari dinas TNI, bapak mengenalnya sejak bekerja ditempat yang sama.
Singkatnya, guruku ini membuka rumahnya untuk aku belajar bahasa Inggris. Luar biasa, membaca, menguasai bahasa asing dan ditambah kebiasaaan menonton TV bersama bapakku yaitu Dunia Dalam Berita makin bertambah ilmuku.


Sekolah tingkat pertama, aku memperoleh juara umum dan masuk ke SMA negeri dengan nilai tertinggi. Bahkan aku melewati masa SMA-ku tanpa hambatan. Meski diwarnai gelak tawa dan sedu sedan, bapakku setia mengawalku. Hingga mendapat kesempatan kuliah melalui undangan dan tanpa tes di perguruan tinggi negeri nomor satu di Jogyakarta.
“Ini perjalanan baru dimulai ya, Nak.” Kata Bapakku.
Impian bapakku yang juga impianku bisa keliling beberapa negara di dunia terwujud. Mulai dari Asia (Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand, Myanmar, Hongkong dan Korea Selatan). Lalu Amerika Serikat dan ke sejumlah negara Eropa termasuk Inggris, negeri favoritnya. Meski akhirnya Bapak dipanggil Sang Ilahi dan tidak bisa mendengarkan cerita petualanganku ke berbagai negara tersebut.


Cerita-cerita melalui Dunia Dalam Berita yang tiap malam jam 9, kami tonton ternyata ada semua kisah perjalananku itu. Dunia yang luas itu jadi satu dalam mimpi yang nyata.

Maka bermimpilah untuk hidup bukan hidup dalam mimpi.

Artikel dari Miss Wantie.

Salah satu kisah yang diambil dari Buku Solonya yang berjudul Kisah-kisah Tersembunyi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *